Tahun 2003, papa dan mama memutuskan
untuk membeli rumah. Bukan rumah yang baru, melainkan rumah lama yang kami
kontrak hampir 4 tahun terakhir saat itu. Aku dan kakak setuju kami membeli
rumah itu, lagi pula kami sudah menganggapnya seperti rumah kami sendiri. Untuk
itu, mama dan papa mengambil pinjaman uang dari bank. Sebagai pegawai negeri,
bukan hal mudah untuk memiliki uang sebanyak 70 juta kontan hanya dengan
mengandalkan gaji. Harga rumah kami 50 juta. 20 juta sisa pinjaman digunakan
untuk merehab beberapa bagian rumah yang benar-benar butuh direhab. Sebagai
contoh, membongkar septic tank kami yang sudah hampir bobol.
Sejak saat itu, kondisi berubah.
Tidak ada lagi jalan-jalan bahkan untuk sekedar melihat-lihat barang di toko.
Kebetulan, mobil kami juga sedang rusak. Tidak ada uang untuk memperbaikinya.
Jadilah kami sekeluarga hanya mengandalkan sepeda motor. Satu sepeda motor
dipakai kakakku yang kuliah di Malang, satu lagi kami pakai di rumah. Kami
harus benar-benar pintar mengatur keuangan rumah. Uang sakuku dikurangi oleh
mama. Uang belanja juga. Kami harus menghemat dalam segala hal. Kadangkala, aku
juga kasihan melihat slip gaji papa. Jika aku kebetulan melihatnya, gaji papa
sebulan hanya tinggal 100an ribu. Semua habis digunakan untuk biaya rumah.
Satu hari, kami pernah duduk bertiga
di meja makan. Menghitung uang receh kembalian-kembalian dari membeli sesuatu.
Uang itu kami kumpulkan berdasar nominalnya. 50, 100, maupun 500 rupiah. 50 dan
100 rupiah kami kumpulkan tiap berjumlah 1000. 500an rupiah kami kumpulkan tiap
berjumlah 2000. Uang itu nantinya akan digunakan untuk uang belanja mama
hari-hari mendatang.
Adaptasi lain terjadi karena aku
berangkat sekolah tidak lagi diantar mobil. Aku naik sepeda motor diantar papa.
Awal-awal diantar sepeda motor, walaupun sudah menggunakan jaket, aku masih
sering masuk angin. Sampai pernah aku muntah di kelas. Saat itu aku duduk di
kelas 3 SMP.
Pengorbanan yang besar juga
ditunjukkan oleh semua anggota keluarga yang lain. Papa bukanlah orang yang
kuat secara fisik dalam menghadapi hujan. Kata papa, waktu kecil papa tidak
pernah diijinkan untuk hujan-hujan oleh nenekku. Tapi sore itu, saat
mengantarku pulang sehabis bimbingan kelas 3 di sekolah, papa terlihat begitu
kuat menghadapi hujan dengan sepeda motor. Tanpa jas hujan. Kebetulan hujan
turun di tengah jalan dan jas hujan papa ketinggalan di rumah. Aku sungguh
menyesal telah marah karena papa telat menjemputku. Apalagi setelah aku melihat
tubuh papa membiru kedinginan.
Kakakku, seseorang yang sangat baik
dan selalu menguatkanku. Masa kuliahnya dilalui tanpa meminta fasilitas
apappun. Dia sangat sabar dan legowo. Bahkan dia rela menginap di rental karena
kami tidak punya uang untuk membelikan kakak computer. Walau computer bekas.
Untuk tambahan uang saku, kakak sering membantu dosennya menganalisis data-data
proyek dan meloakkan kertas-kertas tidak terpakai. Tiap satu proyek kakak
mendapatkan uang 50 sampai 75 ribu. Paling tidak dalam satu bulan harus bisa
didapatkan satu proyek, begitu katanya. Hingga kakak lulus pun, kakak masih
sangat sederhana. Dia mengerjakan skripsinya dengan menumpang di computer milik
temannya. Aku begitu kagum dengan kegigihannya. Dia lulus dengan nilai A. Tapi
bagi kami, dia selalu mendapatkan nilai A di hati. A plus malah.
Mama tampak semakin kurus dan tua.
Dahinya mulai banyak menampakkan kerutan. Semua perhiasan mama telah pindah
dari rumah ke toko mas. Tapi mama tidak pernah tampak sedih. Mama selalu
tersenyum. Tidak perduli se-stress apapun beliau mengatur keuangan keluarga.
Saat ini, semua pinjaman itu telah
lunas. Ketika kami menoleh menceritakannya, semua itu tampak seperti
pengorbanan yang kami bayarkan agar bisa memiliki sebuah rumah untuk
ditinggali. Tapi jika kalian menanyakannya pada kami. Kami akan bilang, itu
anugerah Tuhan. Suatu kebahagiaan untuk tetap utuh bersama menjalani saat-saat
sulit.
Keluargaku, priceless..
Tuhan pasti
mendengar dan mengabulkan doamu. Tapi Dia akan mengabulkannya dengan caraNya
sendiri, dengan tujuan agar kamu mendapatkan yang terbaik, lebih dari apa yang
kamu harapkan.
( Bela, saduran
dari perkataan Goethe, filsuf)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar