Selasa, 18 Desember 2012

Kepingan 2 : Rumah


Tahun 2003, papa dan mama memutuskan untuk membeli rumah. Bukan rumah yang baru, melainkan rumah lama yang kami kontrak hampir 4 tahun terakhir saat itu. Aku dan kakak setuju kami membeli rumah itu, lagi pula kami sudah menganggapnya seperti rumah kami sendiri. Untuk itu, mama dan papa mengambil pinjaman uang dari bank. Sebagai pegawai negeri, bukan hal mudah untuk memiliki uang sebanyak 70 juta kontan hanya dengan mengandalkan gaji. Harga rumah kami 50 juta. 20 juta sisa pinjaman digunakan untuk merehab beberapa bagian rumah yang benar-benar butuh direhab. Sebagai contoh, membongkar septic tank kami yang sudah hampir bobol.

Sejak saat itu, kondisi berubah. Tidak ada lagi jalan-jalan bahkan untuk sekedar melihat-lihat barang di toko. Kebetulan, mobil kami juga sedang rusak. Tidak ada uang untuk memperbaikinya. Jadilah kami sekeluarga hanya mengandalkan sepeda motor. Satu sepeda motor dipakai kakakku yang kuliah di Malang, satu lagi kami pakai di rumah. Kami harus benar-benar pintar mengatur keuangan rumah. Uang sakuku dikurangi oleh mama. Uang belanja juga. Kami harus menghemat dalam segala hal. Kadangkala, aku juga kasihan melihat slip gaji papa. Jika aku kebetulan melihatnya, gaji papa sebulan hanya tinggal 100an ribu. Semua habis digunakan untuk biaya rumah.
Satu hari, kami pernah duduk bertiga di meja makan. Menghitung uang receh kembalian-kembalian dari membeli sesuatu. Uang itu kami kumpulkan berdasar nominalnya. 50, 100, maupun 500 rupiah. 50 dan 100 rupiah kami kumpulkan tiap berjumlah 1000. 500an rupiah kami kumpulkan tiap berjumlah 2000. Uang itu nantinya akan digunakan untuk uang belanja mama hari-hari mendatang.

Adaptasi lain terjadi karena aku berangkat sekolah tidak lagi diantar mobil. Aku naik sepeda motor diantar papa. Awal-awal diantar sepeda motor, walaupun sudah menggunakan jaket, aku masih sering masuk angin. Sampai pernah aku muntah di kelas. Saat itu aku duduk di kelas 3 SMP.

Pengorbanan yang besar juga ditunjukkan oleh semua anggota keluarga yang lain. Papa bukanlah orang yang kuat secara fisik dalam menghadapi hujan. Kata papa, waktu kecil papa tidak pernah diijinkan untuk hujan-hujan oleh nenekku. Tapi sore itu, saat mengantarku pulang sehabis bimbingan kelas 3 di sekolah, papa terlihat begitu kuat menghadapi hujan dengan sepeda motor. Tanpa jas hujan. Kebetulan hujan turun di tengah jalan dan jas hujan papa ketinggalan di rumah. Aku sungguh menyesal telah marah karena papa telat menjemputku. Apalagi setelah aku melihat tubuh papa membiru kedinginan.

Kakakku, seseorang yang sangat baik dan selalu menguatkanku. Masa kuliahnya dilalui tanpa meminta fasilitas apappun. Dia sangat sabar dan legowo. Bahkan dia rela menginap di rental karena kami tidak punya uang untuk membelikan kakak computer. Walau computer bekas. Untuk tambahan uang saku, kakak sering membantu dosennya menganalisis data-data proyek dan meloakkan kertas-kertas tidak terpakai. Tiap satu proyek kakak mendapatkan uang 50 sampai 75 ribu. Paling tidak dalam satu bulan harus bisa didapatkan satu proyek, begitu katanya. Hingga kakak lulus pun, kakak masih sangat sederhana. Dia mengerjakan skripsinya dengan menumpang di computer milik temannya. Aku begitu kagum dengan kegigihannya. Dia lulus dengan nilai A. Tapi bagi kami, dia selalu mendapatkan nilai A di hati. A plus malah.

Mama tampak semakin kurus dan tua. Dahinya mulai banyak menampakkan kerutan. Semua perhiasan mama telah pindah dari rumah ke toko mas. Tapi mama tidak pernah tampak sedih. Mama selalu tersenyum. Tidak perduli se-stress apapun beliau mengatur keuangan keluarga.

Saat ini, semua pinjaman itu telah lunas. Ketika kami menoleh menceritakannya, semua itu tampak seperti pengorbanan yang kami bayarkan agar bisa memiliki sebuah rumah untuk ditinggali. Tapi jika kalian menanyakannya pada kami. Kami akan bilang, itu anugerah Tuhan. Suatu kebahagiaan untuk tetap utuh bersama menjalani saat-saat sulit.
Keluargaku, priceless..

Tuhan pasti mendengar dan mengabulkan doamu. Tapi Dia akan mengabulkannya dengan caraNya sendiri, dengan tujuan agar kamu mendapatkan yang terbaik, lebih dari apa yang kamu harapkan.
( Bela, saduran dari perkataan Goethe, filsuf)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar