Kamis, 17 Januari 2013

Dimulai Dari Sini

Bulan ini adalah bulan terakhir saya mengajar. Setelah ini, saya akan "pensiun" dini dan mengikuti suami ke daerah penempatan kerjanya. Ada perasaan sedih, terkadang saya merasa ingin sekali menangis keras-keras. Tapi saya sudah merasa terlalu banyak menumpahkan air mata. Mungkin ini saatnya saya menurut mengikuti kemana Tuhan menunjukkan jalan tanpa banyak protes.

Saya ingin menjadi dosen sejak lulus kuliah. Saya ingat sekali, saat itu ada tiga doa yang saya selalu rutin panjatkan pada Tuhan YME. Doa yang tidak pernah berubah, konstan. (1). Saya ingin menjadi dosen, (2) saya ingin mendapatkan seseorang yang tulus menyayangi saya apa adanya, (3). saya ingin bisa bersekolah ke luar negeri. Saat ini, kalau dilihat-lihat lagi, ada beberapa yang terkabul, ada juga yang terkabul kemudian "harus dikembalikan" ke Yang Memberi, dan terakhir ada juga yang belum terkabul.

Alhamdulillah, saat ini saya memiliki suami yang insyaAllah benar-benar menyayangi saya apa adanya. Tulus. Untuk itu, saya benar-benar bersyukur. Tuhan begitu mengerti saya. Selanjutnya, saya pernah menjadi dosen, terhitung dua tahun lalu sampai bulan ini. Alhamdulillah, sempat terkabul doa saya, walau kemudian saya harus meninggalkan profesi itu dan entah menuju kemana sekarang. Untuk itu, saya harus belajar ikhlas dan sabar atas ketetapan Nya. Yang terakhir, saya masih sangat ingin bisa bersekolah ke luar negeri. Ada beberapa teman saya yang sudah bisa berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studi. Terkadang rasanya saya iri melihat mereka. Selama dua tahun ini, saya sekuat tenaga mengejar beasiswa untuk bisa bersekolah ke luar negeri. Sampai saat ini, saya hanya berhasil mendapatkan sekolahnya saja, tapi belum berhasil untuk mendapatkan beasiswanya. Untuk itu, saya masih harus bekerja keras untuk bisa percaya atas kekuasaanNya untuk mengatur, memilih, dan mengabulkan mana-mana saja doa yang baik untuk saya. 

Orangtua saya, sempat merasa sayang saya meninggalkan profesi saya yang sekarang. Di usia yang muda, saya yang masih punya potensi untuk meniti karier dan berkembang, harus kemudian karena pengaturanNya, meletakkan semua. Saya pun juga tiak melalui itu dengan mudah. Saya merasakan perjuangan batin yang lumayan. Perjuangan keimanan yang tidak ringan. Perjuangan untuk sabar, ikhlas, percaya, tapi tidak berhenti berusaha. 

Saat ini setelah menikah, banyak perubahan yang saya alami dan lihat sendiri mengenai konsep "pernikahan", paling tidak dalam pandangan saya pribadi. Ketika banyak orang mengatakan bahwa dalam menikah ada kebahagiaan lebih daripada saat sendiri, saya mengakuinya. Tapi rasanya saya juga perlu menambahkan bahwa setelah menikah lah perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Perjuangan menaklukkan ego, perjuangan untuk berbagi, perjuangan untuk saling mendampingi dan menguatkan, perjuangan untuk percaya pada kekuatan mimpi dan kekuasaan Tuhan, dan saya rasa hampir semuanya memainkan emosi kedua belah pihak dalam pernikahan. 

Perjalanan saya masih panjang, rasanya kalau di film, masih akan ada tulisan to be continued yang entah sambungannya apa dan kemana. Saya hanya berharap, perjalanan selanjutnya akan lebih mudah dilalui daripada sebelum ini. Semoga Allah melindungi dan memudahkan jalan kami untuk mewujudkan mimpi berdua, amin. 

Dengan ini, semua dimulai disini. Berdua.
Tidak ada saya, kamu, yang ada hanya kita.
Bahumu adalah satu-satunya tempat saya bersandar nantinya, dan pangkuan saya lah tempatmu bercerita tentang semua.
Saya meletakkan mimpi saya padamu, sepertimu yang mengharap saya selalu mendampingi langkahmu. 
Kita berdua, bermimpi dan berjuang bersama.
Dengan ini, semua dimulai disini. 

A.N. 





Rabu, 16 Januari 2013

Don't be just an ordinary woman!!

I'm writing on this title not because I am a superwoman that already have all the experiences and abilities to become so. I'm still learning on become a multitasking woman- a woman that able to be a good wife for her husband, a good mother for her children, and absolutely has a good achievement of her life.

I only live once, that's what I always say to myself. So I think it's okay if I try to have everything beside me as perfect as possible, beyond ordinary. Although I also realize, "perfect" can be various, according to someone's perception.

So,, this is my opinion toward woman : BEYOND ORDINARY

Pagi ini, saya membaca salah satu notes yang diupload teman di Facebook. Note tersebut bersumber dari salah seorang ibu yang cukup terkenal di Indonesia. Singkat cerita, sang ibu memilih untuk melepaskan karir dan lain sebagainya agar beliau lebih fokus mengurusi keluarganya. Agar beliau bisa maksimal mendidik dan membentuk kepribadian anak-anaknya, mendampingi suaminya. Sungguh, pilihan yang sangat mulia menurut saya. 
Saya membayangkan, dengan masa depan karier yang begitu menjanjikan bagi beliau -ibu tersebut adalah seorang dokter muda yang pintar-, pasti lah tidak mudah meninggalkan semua kebahagiaan ber karier hanya untuk kemudian diam di rumah. Pasti ada perjuangannya. 
Terkadang, perjuangan untuk left everything behind and become a full housewife  bisa berhasil. Sang perempuan bisa ikhlas, bahagia, dan tidak bosan walau kesehariannya berkutat pada dunia domestik rumah tangga, dengan beberapa sosialisasi dan selingan hiburan lain. 
Tetapi, ada juga banyak teman perempuan saya yang seusia di zaman sekarang yang enggan mengambil pilihan tersebut-become a fully housewife. Kebanyakan, berkarier merupakan pilihan mutlak untuk mereka. Pertimbangannya, mereka sudah dikuliahkan orangtua mahal, dan mereka tidak ingin hanya meminta dan menunggu gaji suami. Mereka ingin berpenghasilan sendiri dan mandiri. 

Saya pernah melihat kedua contoh golongan perempuan di atas. Saya pernah melihat ibu-ibu yang bahagia dengan menunggui anaknya sekolah di TK sampai pulang, dan paginya sampai malamnya disibukkan dengan memasak, membersihkan rumah, merawat anak, suami, bahkan terkadang ia sampai lupa merawat diri sendiri. Kehidupannya bahagia (sepertinya sepengamatan saya). Anak dan suami nya rukun, bahagia.

Namun, tidak jarang juga saya temui, betapa mereka harus bolak-balik berkonsultasi ke psikolog, ketika anak mereka sudah akan meninggalkan rumah. Mereka limbung, galau. Merasa tidak rela, takut kesepian, tidak berguna, tidak ingin ditinggal. Akhirnya, mereka seakan "menyandra" anak mereka untuk menemani mereka dirumah. Tinggal keikhlasan anak diuji disini. Antar karier yang membentang di dunia luar sana, atau menunggui orangtua di kota asal. 
Saya kira, wajar lah reaksi limbung ibu-ibu tersebut diatas. Bayangkan, selama lebih dari 20 tahun, kehidupan mereka adalah keluarga mereka. Mulai pagi mengurus anak dan suami sampai malam tiba. Bayangkan ketika tiba-tiba hal yang selama ini menjadi kehidupan rutin mereka tiba-tiba menghilang. Wajar lah kalau mereka limbung. Mirip sindrom pensiun. Post power syndrom.

Saya juga pernah melihat perempuan yang memiliki karier yang mentereng sejak muda. Gajinya saya kira pasti diatas 10 juta sebulan. Saya yakin ia cukup puas dari segi pribadinya. Ia diakui, muda, sudah menikah, cantik, punya anak yang lucu. Tapi sayangnya, ia yang lulusan S2 luar negeri memilih memasrahkan pengasuhan anaknya hampir secara penuh pada pembantunya yang "hanya" lulusan SMP. Ia bekerja dari pagi sampai malam. Ia pergi ketika anaknya masih belum bangun, dan pulang saat anaknya sudah tidur. Si anak kemudian hanya berteman dengan neneknya yang sudah tua, yang melarangnya untuk lari-lari dan bergerak bebas keluar, karena nenek sudah tidak kuat lagi mengikuti tingkah polah cucunya tersebut. Anak juga hanya berbagi pengetahuan dengan pembantunya, yang terbatas pengetahuan SMP, yang saya yakin jauh berbeda level keluasan pengetahuannya dengan ibunya yang S2. Betapa sayangnya. Si anak yang masih panjang masa depannya, lebih daripada karier si ibu, tapi tidak mendapatkan bekal yang cukup dari ibu untuk perjalanan hidupnya nanti. 

Dari kedua contoh di atas, saya menarik kesimpulan pribadi. Mungkin ada baiknya jika seorang perempuan tetap memiliki aktivitas pribadi walaupun sudah menikah dan memiliki anak. Aktivitas tersebut tidaklah harus menyita sedemikian banyak waktu perempuan itu diluar rumah-sehingga mengabaikan keluarga, anak, suami. Aktivitas itu juga tidaklah HARUS menghasilkan sekian puluh juta penghasilan -kecuali terpaksa. Baik sekali jika bisa, namun tidak juga tidak apa-apa, karena sekarang pun ada suami yang bisa diajak berbagi beban mencukupi rumah tangga. 

Namun, aktivitas tersebut harus lah memiliki arti atau makna bagi si perempuan. Aktivitas tersebut harus lah membuat si perempuan tetap memiliki lahan untuk mengembangkan potensi dan wawasannya sehingga ia tidak aus, ketinggalan jaman, mandeg. 

Seiring perkembangan anak, akan ada waktunya dimana perempuan bisa "menggenjot" kariernya tanpa harus banyak kehilangan waktu untuk membekali masa depan anak dan merawat suami. Saat anak-anak mulai beranjak dewasa misalkan, saat dimana anak mulai harus belajar mandiri, saat itulah perempuan pun bisa agak "melepas" anak dengan memaksimalkan produktivitasnya-entah dari segi karier, atau penghasilan, atau pengetahuan.


Saat ini, ada banyak pilihan profesi yang bisa dilakukan. Bisnis online di rumah, tentor paruh waktu di bimbingan belajar, wirausahawati yang sukses, fotografer lepas, penulis. Bahkan, ibu dokter yang saya contohkan di atas tadi juga masih bisa mengembangkan Bank Mata di masa senjanya, yang bisa menolong orang-orang yang mengalami kebutaan, jadi ia tidak sepenuhnya berhenti berkarya dan berkembang.

Intinya, tetap produktif, tetap berproses, tetap berkualitas. 

Kita, perempuan, hanya hidup sekali. Tinggalkan sesuatu yang bermakna dalam hidup, tidak hanya terbatas untuk keluarga, tapi juga dalam lingkup masyarakat luas.