Bulan ini adalah bulan terakhir saya mengajar. Setelah ini, saya akan "pensiun" dini dan mengikuti suami ke daerah penempatan kerjanya. Ada perasaan sedih, terkadang saya merasa ingin sekali menangis keras-keras. Tapi saya sudah merasa terlalu banyak menumpahkan air mata. Mungkin ini saatnya saya menurut mengikuti kemana Tuhan menunjukkan jalan tanpa banyak protes.
Saya ingin menjadi dosen sejak lulus kuliah. Saya ingat sekali, saat itu ada tiga doa yang saya selalu rutin panjatkan pada Tuhan YME. Doa yang tidak pernah berubah, konstan. (1). Saya ingin menjadi dosen, (2) saya ingin mendapatkan seseorang yang tulus menyayangi saya apa adanya, (3). saya ingin bisa bersekolah ke luar negeri. Saat ini, kalau dilihat-lihat lagi, ada beberapa yang terkabul, ada juga yang terkabul kemudian "harus dikembalikan" ke Yang Memberi, dan terakhir ada juga yang belum terkabul.
Alhamdulillah, saat ini saya memiliki suami yang insyaAllah benar-benar menyayangi saya apa adanya. Tulus. Untuk itu, saya benar-benar bersyukur. Tuhan begitu mengerti saya. Selanjutnya, saya pernah menjadi dosen, terhitung dua tahun lalu sampai bulan ini. Alhamdulillah, sempat terkabul doa saya, walau kemudian saya harus meninggalkan profesi itu dan entah menuju kemana sekarang. Untuk itu, saya harus belajar ikhlas dan sabar atas ketetapan Nya. Yang terakhir, saya masih sangat ingin bisa bersekolah ke luar negeri. Ada beberapa teman saya yang sudah bisa berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studi. Terkadang rasanya saya iri melihat mereka. Selama dua tahun ini, saya sekuat tenaga mengejar beasiswa untuk bisa bersekolah ke luar negeri. Sampai saat ini, saya hanya berhasil mendapatkan sekolahnya saja, tapi belum berhasil untuk mendapatkan beasiswanya. Untuk itu, saya masih harus bekerja keras untuk bisa percaya atas kekuasaanNya untuk mengatur, memilih, dan mengabulkan mana-mana saja doa yang baik untuk saya.
Orangtua saya, sempat merasa sayang saya meninggalkan profesi saya yang sekarang. Di usia yang muda, saya yang masih punya potensi untuk meniti karier dan berkembang, harus kemudian karena pengaturanNya, meletakkan semua. Saya pun juga tiak melalui itu dengan mudah. Saya merasakan perjuangan batin yang lumayan. Perjuangan keimanan yang tidak ringan. Perjuangan untuk sabar, ikhlas, percaya, tapi tidak berhenti berusaha.
Saat ini setelah menikah, banyak perubahan yang saya alami dan lihat sendiri mengenai konsep "pernikahan", paling tidak dalam pandangan saya pribadi. Ketika banyak orang mengatakan bahwa dalam menikah ada kebahagiaan lebih daripada saat sendiri, saya mengakuinya. Tapi rasanya saya juga perlu menambahkan bahwa setelah menikah lah perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Perjuangan menaklukkan ego, perjuangan untuk berbagi, perjuangan untuk saling mendampingi dan menguatkan, perjuangan untuk percaya pada kekuatan mimpi dan kekuasaan Tuhan, dan saya rasa hampir semuanya memainkan emosi kedua belah pihak dalam pernikahan.
Perjalanan saya masih panjang, rasanya kalau di film, masih akan ada tulisan to be continued yang entah sambungannya apa dan kemana. Saya hanya berharap, perjalanan selanjutnya akan lebih mudah dilalui daripada sebelum ini. Semoga Allah melindungi dan memudahkan jalan kami untuk mewujudkan mimpi berdua, amin.
Dengan ini, semua dimulai disini. Berdua.
Tidak ada saya, kamu, yang ada hanya kita.
Bahumu adalah satu-satunya tempat saya bersandar nantinya, dan pangkuan saya lah tempatmu bercerita tentang semua.
Saya meletakkan mimpi saya padamu, sepertimu yang mengharap saya selalu mendampingi langkahmu.
Kita berdua, bermimpi dan berjuang bersama.
Dengan ini, semua dimulai disini.
A.N.