Senin, 29 April 2013

Majene, here and then..

Majene. Kota kecil di Sulawesi Barat. Di situlah saya berada sekarang, mungkin juga untuk beberapa waktu ke depan. Majene,, bukan kota yang gemerlap, jauuh sekali berbeda dari kota manapun yang pernah saya tempati sebelumnya. Jauh dari keramaian Malang, Surabaya, ataupun Kediri. Kota ini malah mengingatkan saya pada kenangan masa kecil saya di pulau Kangean, Madura.

Majene tidak begitu punya pandangan positif di kalangan pendatang. Cukup banyak pendatang disana, yang biasanya dimutasi karena pekerjaan. Namun, sedikit sekali diantara mereka yang berpandangan positif tentang Majene, bahkan mereka yang lahir dari Sulawesi sendiri pun. Keluhan, omelan, cibiran, ketidakpuasan, sering sekali saya temukan disana. Kota yang tidak ada apa-apanya lah, kota yang sepi lah, bikin stress, mau cari apa-apa mahal, dan lain sebagainya. Rasanya, kalau di list, kolom list tentang keluhan terhadap Majene pasti lebih banyak daripada kolom pujiannya. 

Saya, yang juga pendatang,, lebih miris lagi merasakannya. Dalam hati saya bilang, padahal mereka pekerja, mereka masih punya waktu untuk keluar rumah dan mencari suasana lain. Bagaimana dengan saya yang hanya diam di rumah saja? (P.S : saya sedang hamil jadi tidak diterima bekerja di kantor karena kondisi saya). Terkadang, kalau lagi benar-benar stress, saya ingin sekali rasanya mengumpat sebanyak-banyaknya tentang kondisi kota Majene. Termasuk mengumpati para pejabat pemerintahannya, yang saya bingung apa saja yang mereka kerjakan sampai tahun 2013 kota mereka masih saja terpencil (Nah kan, saya sudah negatif lagi, hehehe..)

Ditengah-tengah semangat saya yang diam-diam masih menggelora untuk berkarier, sekolah lagi, berkarya, dan lain sebagainya, kondisi di Majene sejujurnya benar-benar membuat saya frustasi. Rasanya seperti dihempaskan ke ruang hampa. Saya sering sekali menangis, terkadang malah menyesal, dan banyak tumpukan perasaan negatif lain yang dulu tidak pernah saya rasakan. I was so positive on my point of view..
Dan lucunya, saya juga punya banyak teman yang memiliki perasaan menyesal yang sama. Terutama yang bernasib sama, di daerah terpencil..

Tidak sebentar waktu yang saya butuhkan untuk legowo, menerima, berdamai. Setelah semua tumpahan perasaan negatif yang saya rasakan, akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa mungkin.. (karena saya juga tidak tahu rencana Tuhan) Majene adalah kota terbaik untuk saya dan suami menyamakan langkah sebagai pasangan baru. Di sana saya belajar bersabar, ikhlas.. Tuhan sementara mengambil semua yang pernah diberikan pada saya saat sendiri; karier, kota tempat tinggal yang nyaman, fasilitas-fasilitas yang mudah diakses, kesempatan berkembang dalam suatu lembaga. Tuhan hanya menyisakan satu, diri saya sendiri. Dan itulah ujian saya, bagaimana saya yang dari dulu sudah terbiasa dengan fasilitas, pujian, tempat yang enak, segala macam atribut duniawi, harus belajar ikhlas mendampingi suami tanpa semua itu. Mendampingi suami hanya dengan diri saya sendiri. Bagaimana saya bisa untuk terus menjaga kondisi saya tetap baik psikologis dan fisik dengan perubahan yang terjadi, dan menyemangati suami di setiap langkahnya. Bagaimana saya, in all the way, mendampingi dia. Hanya itu, bertugas mendampingi dia. Ikhlas, untuk ikut mendampingi dia bagaimanapun kondisinya. 
#saya rasa, hal itu akan sulit saya lakukan kalau saya masih punya semua atribut duniawi itu,, saya pasti masih akan egois dan terus berambisi mengejar mimpi saya sendiri tanpa menyeimbangkan langkah dengan suami.. hehe

Alhamdulillahnya, suami saya orang terbaik yang pernah saya tahu. Keikhlasannya menenangkan saya setiap kali saya menangis pengen pindah. Kesabarannya menghadapi saya saat saya mulai mengumpat-umpat tentang Majene. Kemauannnya untuk berusaha mendapatkan tempat yang lebih baik bagi kami dengan cara belajar untuk sekolah lagi. Saya belajar sabar, suami belajar berjuang.. Alhamdulillahnya, Allah masih menyediakan itu semua untuk saya. 

Majene mungkin memang bukan kota yang ideal untuk saya. Akan tetapi, Majene merupakan kota yang benar-benar bisa menyatukan langkah kami, menyatukan mimpi kami, menyelaraskan rencana-rencana kami. Majene, memberi saya banyak pelajaran untuk ikhlas, sabar, dan untuk lebih percaya pada keindahan rencana Allah, walau se misterius apapun rencana itu. 

Well, this is life, no one knows what happens tomorrow, what God provides to your day, whether it's kind of a nice surprise, or an awful thing to enjoy. However, trust in Allah is a must, you can't deny it.. So,, I will give my efforts to believe in Allah, try my best to put my trust only on Allah's plan, and not stop trying to have a better place to live.. May Allah always blesses us.. amin..


Kamis, 17 Januari 2013

Dimulai Dari Sini

Bulan ini adalah bulan terakhir saya mengajar. Setelah ini, saya akan "pensiun" dini dan mengikuti suami ke daerah penempatan kerjanya. Ada perasaan sedih, terkadang saya merasa ingin sekali menangis keras-keras. Tapi saya sudah merasa terlalu banyak menumpahkan air mata. Mungkin ini saatnya saya menurut mengikuti kemana Tuhan menunjukkan jalan tanpa banyak protes.

Saya ingin menjadi dosen sejak lulus kuliah. Saya ingat sekali, saat itu ada tiga doa yang saya selalu rutin panjatkan pada Tuhan YME. Doa yang tidak pernah berubah, konstan. (1). Saya ingin menjadi dosen, (2) saya ingin mendapatkan seseorang yang tulus menyayangi saya apa adanya, (3). saya ingin bisa bersekolah ke luar negeri. Saat ini, kalau dilihat-lihat lagi, ada beberapa yang terkabul, ada juga yang terkabul kemudian "harus dikembalikan" ke Yang Memberi, dan terakhir ada juga yang belum terkabul.

Alhamdulillah, saat ini saya memiliki suami yang insyaAllah benar-benar menyayangi saya apa adanya. Tulus. Untuk itu, saya benar-benar bersyukur. Tuhan begitu mengerti saya. Selanjutnya, saya pernah menjadi dosen, terhitung dua tahun lalu sampai bulan ini. Alhamdulillah, sempat terkabul doa saya, walau kemudian saya harus meninggalkan profesi itu dan entah menuju kemana sekarang. Untuk itu, saya harus belajar ikhlas dan sabar atas ketetapan Nya. Yang terakhir, saya masih sangat ingin bisa bersekolah ke luar negeri. Ada beberapa teman saya yang sudah bisa berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studi. Terkadang rasanya saya iri melihat mereka. Selama dua tahun ini, saya sekuat tenaga mengejar beasiswa untuk bisa bersekolah ke luar negeri. Sampai saat ini, saya hanya berhasil mendapatkan sekolahnya saja, tapi belum berhasil untuk mendapatkan beasiswanya. Untuk itu, saya masih harus bekerja keras untuk bisa percaya atas kekuasaanNya untuk mengatur, memilih, dan mengabulkan mana-mana saja doa yang baik untuk saya. 

Orangtua saya, sempat merasa sayang saya meninggalkan profesi saya yang sekarang. Di usia yang muda, saya yang masih punya potensi untuk meniti karier dan berkembang, harus kemudian karena pengaturanNya, meletakkan semua. Saya pun juga tiak melalui itu dengan mudah. Saya merasakan perjuangan batin yang lumayan. Perjuangan keimanan yang tidak ringan. Perjuangan untuk sabar, ikhlas, percaya, tapi tidak berhenti berusaha. 

Saat ini setelah menikah, banyak perubahan yang saya alami dan lihat sendiri mengenai konsep "pernikahan", paling tidak dalam pandangan saya pribadi. Ketika banyak orang mengatakan bahwa dalam menikah ada kebahagiaan lebih daripada saat sendiri, saya mengakuinya. Tapi rasanya saya juga perlu menambahkan bahwa setelah menikah lah perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Perjuangan menaklukkan ego, perjuangan untuk berbagi, perjuangan untuk saling mendampingi dan menguatkan, perjuangan untuk percaya pada kekuatan mimpi dan kekuasaan Tuhan, dan saya rasa hampir semuanya memainkan emosi kedua belah pihak dalam pernikahan. 

Perjalanan saya masih panjang, rasanya kalau di film, masih akan ada tulisan to be continued yang entah sambungannya apa dan kemana. Saya hanya berharap, perjalanan selanjutnya akan lebih mudah dilalui daripada sebelum ini. Semoga Allah melindungi dan memudahkan jalan kami untuk mewujudkan mimpi berdua, amin. 

Dengan ini, semua dimulai disini. Berdua.
Tidak ada saya, kamu, yang ada hanya kita.
Bahumu adalah satu-satunya tempat saya bersandar nantinya, dan pangkuan saya lah tempatmu bercerita tentang semua.
Saya meletakkan mimpi saya padamu, sepertimu yang mengharap saya selalu mendampingi langkahmu. 
Kita berdua, bermimpi dan berjuang bersama.
Dengan ini, semua dimulai disini. 

A.N. 





Rabu, 16 Januari 2013

Don't be just an ordinary woman!!

I'm writing on this title not because I am a superwoman that already have all the experiences and abilities to become so. I'm still learning on become a multitasking woman- a woman that able to be a good wife for her husband, a good mother for her children, and absolutely has a good achievement of her life.

I only live once, that's what I always say to myself. So I think it's okay if I try to have everything beside me as perfect as possible, beyond ordinary. Although I also realize, "perfect" can be various, according to someone's perception.

So,, this is my opinion toward woman : BEYOND ORDINARY

Pagi ini, saya membaca salah satu notes yang diupload teman di Facebook. Note tersebut bersumber dari salah seorang ibu yang cukup terkenal di Indonesia. Singkat cerita, sang ibu memilih untuk melepaskan karir dan lain sebagainya agar beliau lebih fokus mengurusi keluarganya. Agar beliau bisa maksimal mendidik dan membentuk kepribadian anak-anaknya, mendampingi suaminya. Sungguh, pilihan yang sangat mulia menurut saya. 
Saya membayangkan, dengan masa depan karier yang begitu menjanjikan bagi beliau -ibu tersebut adalah seorang dokter muda yang pintar-, pasti lah tidak mudah meninggalkan semua kebahagiaan ber karier hanya untuk kemudian diam di rumah. Pasti ada perjuangannya. 
Terkadang, perjuangan untuk left everything behind and become a full housewife  bisa berhasil. Sang perempuan bisa ikhlas, bahagia, dan tidak bosan walau kesehariannya berkutat pada dunia domestik rumah tangga, dengan beberapa sosialisasi dan selingan hiburan lain. 
Tetapi, ada juga banyak teman perempuan saya yang seusia di zaman sekarang yang enggan mengambil pilihan tersebut-become a fully housewife. Kebanyakan, berkarier merupakan pilihan mutlak untuk mereka. Pertimbangannya, mereka sudah dikuliahkan orangtua mahal, dan mereka tidak ingin hanya meminta dan menunggu gaji suami. Mereka ingin berpenghasilan sendiri dan mandiri. 

Saya pernah melihat kedua contoh golongan perempuan di atas. Saya pernah melihat ibu-ibu yang bahagia dengan menunggui anaknya sekolah di TK sampai pulang, dan paginya sampai malamnya disibukkan dengan memasak, membersihkan rumah, merawat anak, suami, bahkan terkadang ia sampai lupa merawat diri sendiri. Kehidupannya bahagia (sepertinya sepengamatan saya). Anak dan suami nya rukun, bahagia.

Namun, tidak jarang juga saya temui, betapa mereka harus bolak-balik berkonsultasi ke psikolog, ketika anak mereka sudah akan meninggalkan rumah. Mereka limbung, galau. Merasa tidak rela, takut kesepian, tidak berguna, tidak ingin ditinggal. Akhirnya, mereka seakan "menyandra" anak mereka untuk menemani mereka dirumah. Tinggal keikhlasan anak diuji disini. Antar karier yang membentang di dunia luar sana, atau menunggui orangtua di kota asal. 
Saya kira, wajar lah reaksi limbung ibu-ibu tersebut diatas. Bayangkan, selama lebih dari 20 tahun, kehidupan mereka adalah keluarga mereka. Mulai pagi mengurus anak dan suami sampai malam tiba. Bayangkan ketika tiba-tiba hal yang selama ini menjadi kehidupan rutin mereka tiba-tiba menghilang. Wajar lah kalau mereka limbung. Mirip sindrom pensiun. Post power syndrom.

Saya juga pernah melihat perempuan yang memiliki karier yang mentereng sejak muda. Gajinya saya kira pasti diatas 10 juta sebulan. Saya yakin ia cukup puas dari segi pribadinya. Ia diakui, muda, sudah menikah, cantik, punya anak yang lucu. Tapi sayangnya, ia yang lulusan S2 luar negeri memilih memasrahkan pengasuhan anaknya hampir secara penuh pada pembantunya yang "hanya" lulusan SMP. Ia bekerja dari pagi sampai malam. Ia pergi ketika anaknya masih belum bangun, dan pulang saat anaknya sudah tidur. Si anak kemudian hanya berteman dengan neneknya yang sudah tua, yang melarangnya untuk lari-lari dan bergerak bebas keluar, karena nenek sudah tidak kuat lagi mengikuti tingkah polah cucunya tersebut. Anak juga hanya berbagi pengetahuan dengan pembantunya, yang terbatas pengetahuan SMP, yang saya yakin jauh berbeda level keluasan pengetahuannya dengan ibunya yang S2. Betapa sayangnya. Si anak yang masih panjang masa depannya, lebih daripada karier si ibu, tapi tidak mendapatkan bekal yang cukup dari ibu untuk perjalanan hidupnya nanti. 

Dari kedua contoh di atas, saya menarik kesimpulan pribadi. Mungkin ada baiknya jika seorang perempuan tetap memiliki aktivitas pribadi walaupun sudah menikah dan memiliki anak. Aktivitas tersebut tidaklah harus menyita sedemikian banyak waktu perempuan itu diluar rumah-sehingga mengabaikan keluarga, anak, suami. Aktivitas itu juga tidaklah HARUS menghasilkan sekian puluh juta penghasilan -kecuali terpaksa. Baik sekali jika bisa, namun tidak juga tidak apa-apa, karena sekarang pun ada suami yang bisa diajak berbagi beban mencukupi rumah tangga. 

Namun, aktivitas tersebut harus lah memiliki arti atau makna bagi si perempuan. Aktivitas tersebut harus lah membuat si perempuan tetap memiliki lahan untuk mengembangkan potensi dan wawasannya sehingga ia tidak aus, ketinggalan jaman, mandeg. 

Seiring perkembangan anak, akan ada waktunya dimana perempuan bisa "menggenjot" kariernya tanpa harus banyak kehilangan waktu untuk membekali masa depan anak dan merawat suami. Saat anak-anak mulai beranjak dewasa misalkan, saat dimana anak mulai harus belajar mandiri, saat itulah perempuan pun bisa agak "melepas" anak dengan memaksimalkan produktivitasnya-entah dari segi karier, atau penghasilan, atau pengetahuan.


Saat ini, ada banyak pilihan profesi yang bisa dilakukan. Bisnis online di rumah, tentor paruh waktu di bimbingan belajar, wirausahawati yang sukses, fotografer lepas, penulis. Bahkan, ibu dokter yang saya contohkan di atas tadi juga masih bisa mengembangkan Bank Mata di masa senjanya, yang bisa menolong orang-orang yang mengalami kebutaan, jadi ia tidak sepenuhnya berhenti berkarya dan berkembang.

Intinya, tetap produktif, tetap berproses, tetap berkualitas. 

Kita, perempuan, hanya hidup sekali. Tinggalkan sesuatu yang bermakna dalam hidup, tidak hanya terbatas untuk keluarga, tapi juga dalam lingkup masyarakat luas. 









Selasa, 18 Desember 2012

Kepingan 2 : Rumah


Tahun 2003, papa dan mama memutuskan untuk membeli rumah. Bukan rumah yang baru, melainkan rumah lama yang kami kontrak hampir 4 tahun terakhir saat itu. Aku dan kakak setuju kami membeli rumah itu, lagi pula kami sudah menganggapnya seperti rumah kami sendiri. Untuk itu, mama dan papa mengambil pinjaman uang dari bank. Sebagai pegawai negeri, bukan hal mudah untuk memiliki uang sebanyak 70 juta kontan hanya dengan mengandalkan gaji. Harga rumah kami 50 juta. 20 juta sisa pinjaman digunakan untuk merehab beberapa bagian rumah yang benar-benar butuh direhab. Sebagai contoh, membongkar septic tank kami yang sudah hampir bobol.

Sejak saat itu, kondisi berubah. Tidak ada lagi jalan-jalan bahkan untuk sekedar melihat-lihat barang di toko. Kebetulan, mobil kami juga sedang rusak. Tidak ada uang untuk memperbaikinya. Jadilah kami sekeluarga hanya mengandalkan sepeda motor. Satu sepeda motor dipakai kakakku yang kuliah di Malang, satu lagi kami pakai di rumah. Kami harus benar-benar pintar mengatur keuangan rumah. Uang sakuku dikurangi oleh mama. Uang belanja juga. Kami harus menghemat dalam segala hal. Kadangkala, aku juga kasihan melihat slip gaji papa. Jika aku kebetulan melihatnya, gaji papa sebulan hanya tinggal 100an ribu. Semua habis digunakan untuk biaya rumah.
Satu hari, kami pernah duduk bertiga di meja makan. Menghitung uang receh kembalian-kembalian dari membeli sesuatu. Uang itu kami kumpulkan berdasar nominalnya. 50, 100, maupun 500 rupiah. 50 dan 100 rupiah kami kumpulkan tiap berjumlah 1000. 500an rupiah kami kumpulkan tiap berjumlah 2000. Uang itu nantinya akan digunakan untuk uang belanja mama hari-hari mendatang.

Adaptasi lain terjadi karena aku berangkat sekolah tidak lagi diantar mobil. Aku naik sepeda motor diantar papa. Awal-awal diantar sepeda motor, walaupun sudah menggunakan jaket, aku masih sering masuk angin. Sampai pernah aku muntah di kelas. Saat itu aku duduk di kelas 3 SMP.

Pengorbanan yang besar juga ditunjukkan oleh semua anggota keluarga yang lain. Papa bukanlah orang yang kuat secara fisik dalam menghadapi hujan. Kata papa, waktu kecil papa tidak pernah diijinkan untuk hujan-hujan oleh nenekku. Tapi sore itu, saat mengantarku pulang sehabis bimbingan kelas 3 di sekolah, papa terlihat begitu kuat menghadapi hujan dengan sepeda motor. Tanpa jas hujan. Kebetulan hujan turun di tengah jalan dan jas hujan papa ketinggalan di rumah. Aku sungguh menyesal telah marah karena papa telat menjemputku. Apalagi setelah aku melihat tubuh papa membiru kedinginan.

Kakakku, seseorang yang sangat baik dan selalu menguatkanku. Masa kuliahnya dilalui tanpa meminta fasilitas apappun. Dia sangat sabar dan legowo. Bahkan dia rela menginap di rental karena kami tidak punya uang untuk membelikan kakak computer. Walau computer bekas. Untuk tambahan uang saku, kakak sering membantu dosennya menganalisis data-data proyek dan meloakkan kertas-kertas tidak terpakai. Tiap satu proyek kakak mendapatkan uang 50 sampai 75 ribu. Paling tidak dalam satu bulan harus bisa didapatkan satu proyek, begitu katanya. Hingga kakak lulus pun, kakak masih sangat sederhana. Dia mengerjakan skripsinya dengan menumpang di computer milik temannya. Aku begitu kagum dengan kegigihannya. Dia lulus dengan nilai A. Tapi bagi kami, dia selalu mendapatkan nilai A di hati. A plus malah.

Mama tampak semakin kurus dan tua. Dahinya mulai banyak menampakkan kerutan. Semua perhiasan mama telah pindah dari rumah ke toko mas. Tapi mama tidak pernah tampak sedih. Mama selalu tersenyum. Tidak perduli se-stress apapun beliau mengatur keuangan keluarga.

Saat ini, semua pinjaman itu telah lunas. Ketika kami menoleh menceritakannya, semua itu tampak seperti pengorbanan yang kami bayarkan agar bisa memiliki sebuah rumah untuk ditinggali. Tapi jika kalian menanyakannya pada kami. Kami akan bilang, itu anugerah Tuhan. Suatu kebahagiaan untuk tetap utuh bersama menjalani saat-saat sulit.
Keluargaku, priceless..

Tuhan pasti mendengar dan mengabulkan doamu. Tapi Dia akan mengabulkannya dengan caraNya sendiri, dengan tujuan agar kamu mendapatkan yang terbaik, lebih dari apa yang kamu harapkan.
( Bela, saduran dari perkataan Goethe, filsuf)

Ketawalah


Kebahagiaan adalah sesuatu yang simple yang dapat kau temui dimana saja. Simple tapi menyesatkan. Menyesatkan karena jika kau tidak menemukannya, kau tidak akan merasa lengkap. Kau hilang arah.

Sudah hampir 5 jam aku berkutat dengan laptopku. Laptopku kena virus. Parah. Menyakitkan dan stress rasanya. Setiap usaha yang aku lakukan tidak berhasil mengusir virus kurangajar itu keluar dari laptopku. Laptop ini aku beli dengan uang hasil jerih payahku sendiri. Menyakitkan saat tahu ada sesuatu yang berbahaya mengancamnya. “Program ulang aja”, begitulah saran teman-temanku. Tapi entah mengapa, hingga memasuki jam ke 5, aku masih juga belum mau menyerah. Saat-saat terakhir, aku ingat salah satu temanku kuliah di ITS. Ah, siapa tahu dia bisa. Singkat cerita, setelah menumpahkan semua keluh kesah dan sumpah serapah, aku berjanji akan datang ke kampusnya besok jam 2 siang. Untunglah, dia bisa.

Aku sampai di ITS jam 2 siang lebih sedikit. Ternyata dia masih ada urusan sehingga aku harus menunggunya. Begitu sosoknya datang, aku serahkan laptopku. “Aku stress Lis, mbuh virus opo iki”. Wajahku berlipat. Total sudah hampir 20 jam aku tidak tersenyum. Mulai dari kemaren malam saat laptopku positif kena virus , tadi ujian jam 11.30, hingga sekarang aku duduk terpekur di UPT ITS. Dia mulai mengutak-atik laptopku, entah apa saja yang dilakukannya. Aku hanya melihat dan menunggu. Lalu tiba-tiba kudengar dia berkata, “asem, virus opo iki bel? Aku sampek kringeten”. Mendengar itu, kontan aku tertawa. Entah mengapa. Penampakan Kholis lucu sekali menurutku.

heh, opo’o ngguyu. Direwangi melu stress malah ngguyu”, sahutnya begitu melihatku tertawa. Bukannya menjawab aku malah semakin tertawa terbahak-bahak. “Wis meh sedino aku ga ngguyu Lis, sejak laptopku bervirus kemaren malam”. Entah mengapa, mendengar kata-kataku, gantian Kholis yang tertawa. “Gak ngguyu iku nggawe awak kaku”, begitu katanya. Benar saja, lega sekali rasanya bisa tertawa. Hampir selama 5 jam kami mengotak-atik laptop itu, lima antivirus dimasukkan, mulai dari kaspersky 2009 hingga pcmav. Tidak ada yang bekerja. Solusi terakhir adalah menghapus komponen di system32 yang terkena virus. Tapi entah kenapa, aku merasa lebih lega. Mungkin karena aku sekarang bisa tertawa.

Hahahahahaha….

Aku Ingin


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Tidak macam-macam. Tidak berlebihan.
Bukan bayangan. Tapi aku merasakanmu dalam setiap langkahku. Perbedaan antara nyata dan impian tipis disini.
Jika orang bilang cinta adalah kehilangan diri namun menemukannya pada orang lain. aku bersyukur hingga saat ini kau tidak pernah membiarkanku kehilangan diriku. Cinta ini mengukuhkan eksistensiku. Atau paling tidak, jika aku diharuskan mengakui filosofi diatas, aku tidak merasa sia-sia menemukan diriku dalam sosokmu.
Denganmu aku belajar arti komitmen. Tanpa terikat. Cinta yang indah adalah cinta yang membebaskan. Itu katamu. Aku setuju. Aku tidak pernah merasa susah kembali padamu. Seakan kamulah pemegang salah satu kunci rumahku. Sehingga setiap pulang aku akan selalu menemukan sosokmu.
Terima kasih telah membuatku jatuh cinta setiap hari. Selama 94. 608.000 detik  dan akan bertambah lagi. Jika saja aku bisa member nilai nominal di belakangnya, kau akan melihat jelas mengapa aku mengatakan : kau menyumbang banyak dalam tabungan hidupku .

Pak Darman


Orang bilang cinta itu anugerah. Bisa jadi. Paling tidak, lewat cinta kita bisa membuat orang lain bahagia.

Kelas enam SD, aku merasa aku menyayangi seseorang. Seseorang yang sangat istimewa. Belum pernah kutemui laki-laki seperti dia. Hanya papa dan kakak laki-lakiku lah yang mengalahkannya. Klise, dia baik. Berwibawa. Kata-katanya hangat didengar. Hampir setiap hari aku bertemu dengannya. Sungguh, aku ingin bisa seperti dia. Perasaan kagumku seiring dengan rasa sayangku padanya.

Namanya Darman. Namun jangan harap aku akan memanggilnya dengan sebutan itu. Aku selalu memanggilnya dengan panggilan Pak Darman. Beliau kepala sekolah SDku. Jangan salah, beliau sudah sangat tua. Hampir seusia kakekku. Mungkin sekitar 60an. Kalian pasti bingung. Bukan perasaan sayang seperti kekasih yang kurasakan. Bukan. Tapi perasaan sayang yang istimewa. Sulit digambarkan. Dia orang yang berarti dan berpengaruh pada hidupku nantinya. Hingga sekarang.

Pak Darman datang ke sekolahku menggantikan Bu Mujiasri. Sangat berbeda dengan Bu Muji yang otoriter, Pak Darman sangat demokratis. Beliau membebaskan kami membawa apa saja yang kami rasa perlu dalam proses belajar kami. Asalkan semua itu tidak kelewatan ataupun membahayakan. Beliau juga sering mengajak aku dan teman-temanku ngobrol saat istirahat. Membicarakan tentang apa saja. Selalu ada waktu untuk itu. Terkadang aku juga heran, bagaimana beliau membagi waktu. Selain kelasku, beliau juga sering berkeliling kelas lain. Semua akrab dengan Pak Darman. Semua sayang Pak Darman.

Bayak hal yang dibawa Pak Darman. Perubahan-perubahan yang sangat berarti. Aku masih sangat ingat bagaimana Pak Darman mengajarkan disiplin pada kami. Hanya beberapa kali beliau mengatakan bahwa kami semua, termasuk guru-guru, harus datang tepat waktu. Dapat dihitung jari berapa kali beliau mengatakannya. Sisanya, beliau mengatakannya dalam perbuatan. Dengan sepeda motor Honda tahun 70an, beliau selalu datang 15 menit sebelum bel masuk. Walaupun rumah beliau jauh, sekitar 5 km ke sekolah. Bandingkan dengan mayoritas murid dan guru yang domisilinya rata-rata tidak lebih dari 2 km dari sekolah. Saat datang, beliau pasti sudah rapi, wangi, dan tersenyum. Beliau tidak pernah lupa tersenyum. Setiap pagi setelah datang, beliau akan berkeliling kelas melihat murid-muridnya. SDku kecil, hanya terdiri dari enam kelas yang berjajar.

Wajah yang sangat berbeda akan terlihat pada kami dan guru-guru yang biasa datang telat. Kami juga tersenyum. Senyum malu tepatnya. Malu karena kami kalah datang dengan Pak Darman. Malu karena kami telat. Tidak ada banyak teguran. Pak Darman bukanlah orang yang banyak omong. Jika saat ini sedang trend kata-kata NATO (No Action Talk Only), bisa dikatakan Pak Darman adalah orang yang sulit menyandang gelar NATO. Tapi jangan tanya efeknya. Jauh lebih manjur daripada omelan pagi Bu Mujiasri saat kami telat dulu.
Saat Pak Darman banyak bicara adalah saat beliau mengobrol dengan kami waktu istirahat. Banyak nasehat yang diberikan beliau pada kami. Dengan kata-kata yang tenang, beliau mengajari kami banyak tentang hidup. Tidak menggurui. Tidak membosankan. Kami tidak merasa dikuliahi. Sering, anak-anak yang sedang bermain menghampiri gerombolan dimana ada Pak Darman.  Pak Darman magnet baru di sekolah kami.

Jujur, itulah yang selalu beliau tanamkan. Aku benar-benar ingat bagaimana beliau sering mengajari kami untuk menjadi manusia yang jujur. Jujur pada diri sendiri dan orang lain. Contoh beliau saat itu adalah kegiatan mencontek kami. Memang, walaupun sudah angkatan tertua dalam sekolah, kami masih sangat getol dalam hal mencontek saat ulangan. Beliau pernah bilang, jika tidak bisa mengerjakan soal, sudahlah jangan mencontek. Segeralah berpikir jawaban terbaik yang kita bisa dan keluar. Buat apa dipikir lama-lama jika kita tidak tahu jawabannya. Jujurlah pada dirimu sendiri bahwa kamu tidak bisa mengerjakannya, dan buatlah orang lain jujur dengan tidak bertanya jawaban. Integritas dan disiplin. Point tambahan dari nasehat kejujuran Pak Darman.

Orang yang jujur adalah orang yang disiplin dalam mempertahankan integritasnya. Aku selalu mengingatnya.

Pak Darman sangat mencintai kami semua, murid-muridnya. Untuk itulah beliau menjaga kami agar selalu berada pada jalur yang tepat dengan cara yang tepat. Semua perlakuan Pak Darman membuat kami, aku dan teman-temanku, bahagia. Bahagia dan bangga sekolah kecil kami memiliki beliau.