Selasa, 29 Maret 2011

At One Night

Malam ini dingin sekali. Rasanya, perjalanan pulang menjadi perjalanan terjauh yang sangat tidak ingin kulakukan. Aku baru saja selessai mengerjakan tugas di rumah salah satu temanku. Fresh man di kampus, banyak tugas menunggu…

Huan rintik-rintik, semakin menambah dingin. Di perempatan aku berhenti. Sialan ! lampu merah. Sambil menunggu, iseng aku melihat sekeliling. Aku melihatnya. Dia meringkuk di trotoar pinggir jalan, sambil menggendong koran yang berselimut plastic. Dia masih kecil, sangat kecil. Mungkin baru tujuh atau delapan tahun. Lalu aku melihatnya mengangkat kepalanya, menatapku. Aku bingung. Aku tidak pernah ditatap oleh orang dengan tatapan seperti itu. Tatapannya tajam. Menusukku. Nampak jelas dia bukan bocah ingusan yang masih sering menangis. Dia kuat. Terlihat di matanya.

Pandanganku teralih, kulihat pengendara sepeda motor di sampingku mengulurkan uang padanya, membeli koran yang ia bawa. Kemudian kudengar pengendara itu berkata, “anak sekecil itu, seharusnya dia ada di rumah sekarang”. Aku percaya, itulah yang seharusnya dia lakukan sekarang. Malam ini begitu dingin. Mungkin hampir setiap pengendara di jalan ingin segera merasakan hangatnya rumah. Tapi mengapa dia masih disana ? meringkuk sendiri. Dia. Sekecil itu. Apa uang yang dia dapatkan belum cukup?

Pertemuan itu singkat. Hanya 90 detik. Selama lampu merah. Tapi walaupun sampai di kos, aku masih belum bisa berhenti memikirkannya. Banyak anak seperti dia. Banyak pihak yang menganjurkan untuk mengacuhkan mereka. Memberi mereka uang sama dengan mendukung keberadaan mereka di jalanan. Tapi jika itu adalah pilihan termudah untuk dilakukan, apa yang akan kita lakukan? Dimana kita? Aku, orang lain, Negara, hingga akhirnya anak itu berada di jalanan. Sampai kapan kita akan diam di comfort place kita?

Salah satu temanku pernah bilang ; ”kuliah sing pinter, cepet lulus, dan buat Indonesia jadi Negara yang kuat”. Idealisme. Akankah tertanam hingga aku lulus nanti? Tidakkah akan terganti dengan motif lain? Materi? Egoisme? Orang bilang idealism adalah harta seorang mahasiswa. Sebelum dia menapak kenyataan yang membuatnya sama seperti orang kebanyakan.

Jalan masih jauh. Banyak yang harus ditempuh. Banyak yang harus diselesaikan. Masih banyak tugas menunggu. Semoga idealisme itu tetap ada.

Banyak hal dalam hidup. Ada tawa, tangis. Bahagia, sedih. Anugerah, cobaan..
Just enjoy your life, and you’ll know how precious it is.