Pagi itu cukup cerah. Di bawah pohon
akasia depan kelas satu, kami berkumpul. Aku, Yudhi kentang, Ogik, dan Itin duduk melingkar. Kami sedang merencanakan
sesuatu. Sesuatu yang besar. Rahasia. Hanya kami yang tahu. Tempat berkumpul
ini kami pilih karena posisinya yang strategis. Di depan kelas dengan strata
terendah di sekolah kami. Dengan posisi kami yang sudah kelas empat SD, kami
percaya anak-anak kecil di dekat kami bahkan tidak akan berani melihat kami.
Apalagi menguping. Jadi, posisi kami aman.
Kentang membuka
pembicaraan. Dengan muka serius dia berkata, “harus hari ini!”. Dengan wajah serius pula seakan dialah pemimpin
bagi kami, kami manggut-manggut tanda setuju. Harus hari ini. Terdengar Ogik buka suara, ”heh, emang gampang to menurutmu? Kita mau apa?”. Kami semua
serempak tertunduk. Iya ya? Kami mau apa? Rencana kami bukanlah hal yang mudah
untuk dilakukan. Baiklah, kami berpikir keras.
“sebenere
aku punya ide”, kata Ogik. Penasaran, kami pun mendesak Ogik untuk
membocorkan idenya. Pada dasarnya, sesuai dengan tujuan awal kami di sini, kami
ingin mendapatkan lagi hak-hak kami, yaitu barang-barang kami yang disita oleh
kepala sekolah kami yang dulu. Bu Mujriasi namanya. Kadangkala, beliau suka
aneh dengan mengeluarkan larangan-larangan membawa benda tertentu yang tidak
kami mengerti. Kemaren dulu, beliau sempat melarang kami untuk membawa tip-ex, alat untuk menghapus tulisan
yang menggunakan bolpoin. Kami dilarang menggunakannya karena dianggap membuat
hasil pekerjaan kami menjadi kotor, banyak bertebaran warna putih dimana-mana
hasil kami men tip-ex. Tapi bagi
kami, larangan itu sunggguh tidak masuk akal. Bukankah wajar jika seseorang
membuat suatu kesalahan? Kami masih sering secara sembunyi-sembunyi membawa tip-ex untuk menghapus
kesalahan-kesalahan dalam tulisan tugas kami, karena bagaimanapun kami masih
saja sering melakukan kesalahan. Bu Ratmi, guru kelas kami juga tidak melarang.
Beliau cuek saja dengan kelakuan kami.
Hingga suatu hari saat mengerjakan
tugas matematika, tugas yang paling sering membuat kami harus menggunakan tip-ex, bu Muji melakukan inspeksi
mendadak. Tak diragukan lagi, hampir satu kelas tip-exnya dirampas. Termasuk kami tentunya.
Kejadian itu bukanlah satu-satunya
yang pernah kami alami. Di lain waktu, bu Muji juga pernah melarang kami
membawa cutter. Alasannya simple.
Membahayakan. Alasan sesimpel itu cukup membawa semua cutter di kotak pensil kami berpindah ke kantor Kepala Sekolah.
Episode cutter inilah yang akhirnya
mengantar kami berempat di bawah pohon akasia hari ini. Cutter Kentang dan Ogik bukanlah milik mereka sendiri.
Masing-masing adalah milik kakak dan ayahnya. Bagi kami saat itu, cutter bukanlah barang yang murah untuk
dibeli dengan uang saku kami. Motif ekonomi inilah yang melandasi niat Kentang
dan Ogik untuk mendapatkan lagi barang-barang milik mereka. Celakanya, aku dan
Itin adalah dua sahabat yang terpesona pada rencana mereka. Kami menganggap itu
hebat. Idealisme kami membara. Semua barang yang asalnya milik kami haruslah
kembali sebagai milik kami. Memang, saat itu bu Mujiasri sudah akan pindah dari
sekolah kami. Hingga detik beliau mengumumkan akan pindah, beliau samasekali
tidak menyinggung barang-barang yang telah dirampasnya.
Tidak ada alasan untuk merampas
barang-barang milik kami dengan semena-mena, tanpa mengembalikannya kepada
kami. Itulah tekad kami. Walaupun saat
itu kantor Kepala Sekolah merupakan tempat keramat bagi sebagian besar siswa,
dan tidak ada siswa yang bisa dengan leluasa keluar masuk kantor, tapi tekad
kami telah membara.
Jika kami jadi mengikuti paparan
rencana Ogik, inilah yang akan kami lakukan. Siang hari nanti, pelajaran
olahraga akan kosong karena bu Etty, guru olahraga kami, sakit. Saat itu kami
akan minta ijin pada bu Mun, guru agama kami yang bertanggung jawab dalam
urusan membereskan kantor Kepala Sekolah untuk ikut membantu mas Dar
membersihkan kantor Kepala Sekolah. Saat bersih-bersih itulah, kami sekaligus
akan mencari barang-barang kami yang hilang. Urusan mas Dar, itu mudah. Penjaga
sekolah kami yang masih muda itu pasti tidak akan keberatan jika kami melakukan
rencana kami.
Siang tiba. Benar saja. Saat itu aku,
Kentang, Ogik, dan Itin sudah terlihat sibuk membersihkan kantor Kepala
Sekolah. Kami semua terlihat sangat seperti murid yang baik. Semua urusan ijin
beres di tanganku. Urusan mas Dar sudah ditangani oleh Kentang. Untuk urusan
penyimpanan barang kami yang kami temukan, Itin sudah mempersiapkan ransel
besarnya.
Hampir selama pelajaran olahraga kami
sibuk di kantor Kepala Sekolah. Tapi semua itu tidak sia-sia. Kami mendapatkan
hampir semua barang yang pernah disita oleh Kepala Sekolah kami. Selain itu,
kami mendapatkan bonus banyak barang lain. Pensil, bolpoin, penggaris yang
entah milik siapa, oleh mas Dar diberikan pada kami. Betapa senang kami.
Kentang dan Ogik lega karena ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk mengganti cutter milik kakak dan ayah mereka.
Ditambah lagi dengan banyaknya bolpoin yang mereka terima. Mereka bisa
menghemat pengeluaran untuk alat tulis selama paling tidak dua caturwulan. Aku
dan Itin? Jangan ditanya. Kami sangat bahagia karena idealisme kami terpenuhi.
Semua barang-barang kami kembali. Kami juga merasa hebat. Sangat hebat. Sebagai
perempuan yang biasanya hanya bisa pasrah dan takut jika barangnya dirampas,
kami lain. Kami bisa mendapatkan kembali semuanya. Kami bukanlah anak kecil
lagi !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar