Selasa, 18 Desember 2012

Kepingan 2 : Rumah


Tahun 2003, papa dan mama memutuskan untuk membeli rumah. Bukan rumah yang baru, melainkan rumah lama yang kami kontrak hampir 4 tahun terakhir saat itu. Aku dan kakak setuju kami membeli rumah itu, lagi pula kami sudah menganggapnya seperti rumah kami sendiri. Untuk itu, mama dan papa mengambil pinjaman uang dari bank. Sebagai pegawai negeri, bukan hal mudah untuk memiliki uang sebanyak 70 juta kontan hanya dengan mengandalkan gaji. Harga rumah kami 50 juta. 20 juta sisa pinjaman digunakan untuk merehab beberapa bagian rumah yang benar-benar butuh direhab. Sebagai contoh, membongkar septic tank kami yang sudah hampir bobol.

Sejak saat itu, kondisi berubah. Tidak ada lagi jalan-jalan bahkan untuk sekedar melihat-lihat barang di toko. Kebetulan, mobil kami juga sedang rusak. Tidak ada uang untuk memperbaikinya. Jadilah kami sekeluarga hanya mengandalkan sepeda motor. Satu sepeda motor dipakai kakakku yang kuliah di Malang, satu lagi kami pakai di rumah. Kami harus benar-benar pintar mengatur keuangan rumah. Uang sakuku dikurangi oleh mama. Uang belanja juga. Kami harus menghemat dalam segala hal. Kadangkala, aku juga kasihan melihat slip gaji papa. Jika aku kebetulan melihatnya, gaji papa sebulan hanya tinggal 100an ribu. Semua habis digunakan untuk biaya rumah.
Satu hari, kami pernah duduk bertiga di meja makan. Menghitung uang receh kembalian-kembalian dari membeli sesuatu. Uang itu kami kumpulkan berdasar nominalnya. 50, 100, maupun 500 rupiah. 50 dan 100 rupiah kami kumpulkan tiap berjumlah 1000. 500an rupiah kami kumpulkan tiap berjumlah 2000. Uang itu nantinya akan digunakan untuk uang belanja mama hari-hari mendatang.

Adaptasi lain terjadi karena aku berangkat sekolah tidak lagi diantar mobil. Aku naik sepeda motor diantar papa. Awal-awal diantar sepeda motor, walaupun sudah menggunakan jaket, aku masih sering masuk angin. Sampai pernah aku muntah di kelas. Saat itu aku duduk di kelas 3 SMP.

Pengorbanan yang besar juga ditunjukkan oleh semua anggota keluarga yang lain. Papa bukanlah orang yang kuat secara fisik dalam menghadapi hujan. Kata papa, waktu kecil papa tidak pernah diijinkan untuk hujan-hujan oleh nenekku. Tapi sore itu, saat mengantarku pulang sehabis bimbingan kelas 3 di sekolah, papa terlihat begitu kuat menghadapi hujan dengan sepeda motor. Tanpa jas hujan. Kebetulan hujan turun di tengah jalan dan jas hujan papa ketinggalan di rumah. Aku sungguh menyesal telah marah karena papa telat menjemputku. Apalagi setelah aku melihat tubuh papa membiru kedinginan.

Kakakku, seseorang yang sangat baik dan selalu menguatkanku. Masa kuliahnya dilalui tanpa meminta fasilitas apappun. Dia sangat sabar dan legowo. Bahkan dia rela menginap di rental karena kami tidak punya uang untuk membelikan kakak computer. Walau computer bekas. Untuk tambahan uang saku, kakak sering membantu dosennya menganalisis data-data proyek dan meloakkan kertas-kertas tidak terpakai. Tiap satu proyek kakak mendapatkan uang 50 sampai 75 ribu. Paling tidak dalam satu bulan harus bisa didapatkan satu proyek, begitu katanya. Hingga kakak lulus pun, kakak masih sangat sederhana. Dia mengerjakan skripsinya dengan menumpang di computer milik temannya. Aku begitu kagum dengan kegigihannya. Dia lulus dengan nilai A. Tapi bagi kami, dia selalu mendapatkan nilai A di hati. A plus malah.

Mama tampak semakin kurus dan tua. Dahinya mulai banyak menampakkan kerutan. Semua perhiasan mama telah pindah dari rumah ke toko mas. Tapi mama tidak pernah tampak sedih. Mama selalu tersenyum. Tidak perduli se-stress apapun beliau mengatur keuangan keluarga.

Saat ini, semua pinjaman itu telah lunas. Ketika kami menoleh menceritakannya, semua itu tampak seperti pengorbanan yang kami bayarkan agar bisa memiliki sebuah rumah untuk ditinggali. Tapi jika kalian menanyakannya pada kami. Kami akan bilang, itu anugerah Tuhan. Suatu kebahagiaan untuk tetap utuh bersama menjalani saat-saat sulit.
Keluargaku, priceless..

Tuhan pasti mendengar dan mengabulkan doamu. Tapi Dia akan mengabulkannya dengan caraNya sendiri, dengan tujuan agar kamu mendapatkan yang terbaik, lebih dari apa yang kamu harapkan.
( Bela, saduran dari perkataan Goethe, filsuf)

Ketawalah


Kebahagiaan adalah sesuatu yang simple yang dapat kau temui dimana saja. Simple tapi menyesatkan. Menyesatkan karena jika kau tidak menemukannya, kau tidak akan merasa lengkap. Kau hilang arah.

Sudah hampir 5 jam aku berkutat dengan laptopku. Laptopku kena virus. Parah. Menyakitkan dan stress rasanya. Setiap usaha yang aku lakukan tidak berhasil mengusir virus kurangajar itu keluar dari laptopku. Laptop ini aku beli dengan uang hasil jerih payahku sendiri. Menyakitkan saat tahu ada sesuatu yang berbahaya mengancamnya. “Program ulang aja”, begitulah saran teman-temanku. Tapi entah mengapa, hingga memasuki jam ke 5, aku masih juga belum mau menyerah. Saat-saat terakhir, aku ingat salah satu temanku kuliah di ITS. Ah, siapa tahu dia bisa. Singkat cerita, setelah menumpahkan semua keluh kesah dan sumpah serapah, aku berjanji akan datang ke kampusnya besok jam 2 siang. Untunglah, dia bisa.

Aku sampai di ITS jam 2 siang lebih sedikit. Ternyata dia masih ada urusan sehingga aku harus menunggunya. Begitu sosoknya datang, aku serahkan laptopku. “Aku stress Lis, mbuh virus opo iki”. Wajahku berlipat. Total sudah hampir 20 jam aku tidak tersenyum. Mulai dari kemaren malam saat laptopku positif kena virus , tadi ujian jam 11.30, hingga sekarang aku duduk terpekur di UPT ITS. Dia mulai mengutak-atik laptopku, entah apa saja yang dilakukannya. Aku hanya melihat dan menunggu. Lalu tiba-tiba kudengar dia berkata, “asem, virus opo iki bel? Aku sampek kringeten”. Mendengar itu, kontan aku tertawa. Entah mengapa. Penampakan Kholis lucu sekali menurutku.

heh, opo’o ngguyu. Direwangi melu stress malah ngguyu”, sahutnya begitu melihatku tertawa. Bukannya menjawab aku malah semakin tertawa terbahak-bahak. “Wis meh sedino aku ga ngguyu Lis, sejak laptopku bervirus kemaren malam”. Entah mengapa, mendengar kata-kataku, gantian Kholis yang tertawa. “Gak ngguyu iku nggawe awak kaku”, begitu katanya. Benar saja, lega sekali rasanya bisa tertawa. Hampir selama 5 jam kami mengotak-atik laptop itu, lima antivirus dimasukkan, mulai dari kaspersky 2009 hingga pcmav. Tidak ada yang bekerja. Solusi terakhir adalah menghapus komponen di system32 yang terkena virus. Tapi entah kenapa, aku merasa lebih lega. Mungkin karena aku sekarang bisa tertawa.

Hahahahahaha….

Aku Ingin


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Tidak macam-macam. Tidak berlebihan.
Bukan bayangan. Tapi aku merasakanmu dalam setiap langkahku. Perbedaan antara nyata dan impian tipis disini.
Jika orang bilang cinta adalah kehilangan diri namun menemukannya pada orang lain. aku bersyukur hingga saat ini kau tidak pernah membiarkanku kehilangan diriku. Cinta ini mengukuhkan eksistensiku. Atau paling tidak, jika aku diharuskan mengakui filosofi diatas, aku tidak merasa sia-sia menemukan diriku dalam sosokmu.
Denganmu aku belajar arti komitmen. Tanpa terikat. Cinta yang indah adalah cinta yang membebaskan. Itu katamu. Aku setuju. Aku tidak pernah merasa susah kembali padamu. Seakan kamulah pemegang salah satu kunci rumahku. Sehingga setiap pulang aku akan selalu menemukan sosokmu.
Terima kasih telah membuatku jatuh cinta setiap hari. Selama 94. 608.000 detik  dan akan bertambah lagi. Jika saja aku bisa member nilai nominal di belakangnya, kau akan melihat jelas mengapa aku mengatakan : kau menyumbang banyak dalam tabungan hidupku .

Pak Darman


Orang bilang cinta itu anugerah. Bisa jadi. Paling tidak, lewat cinta kita bisa membuat orang lain bahagia.

Kelas enam SD, aku merasa aku menyayangi seseorang. Seseorang yang sangat istimewa. Belum pernah kutemui laki-laki seperti dia. Hanya papa dan kakak laki-lakiku lah yang mengalahkannya. Klise, dia baik. Berwibawa. Kata-katanya hangat didengar. Hampir setiap hari aku bertemu dengannya. Sungguh, aku ingin bisa seperti dia. Perasaan kagumku seiring dengan rasa sayangku padanya.

Namanya Darman. Namun jangan harap aku akan memanggilnya dengan sebutan itu. Aku selalu memanggilnya dengan panggilan Pak Darman. Beliau kepala sekolah SDku. Jangan salah, beliau sudah sangat tua. Hampir seusia kakekku. Mungkin sekitar 60an. Kalian pasti bingung. Bukan perasaan sayang seperti kekasih yang kurasakan. Bukan. Tapi perasaan sayang yang istimewa. Sulit digambarkan. Dia orang yang berarti dan berpengaruh pada hidupku nantinya. Hingga sekarang.

Pak Darman datang ke sekolahku menggantikan Bu Mujiasri. Sangat berbeda dengan Bu Muji yang otoriter, Pak Darman sangat demokratis. Beliau membebaskan kami membawa apa saja yang kami rasa perlu dalam proses belajar kami. Asalkan semua itu tidak kelewatan ataupun membahayakan. Beliau juga sering mengajak aku dan teman-temanku ngobrol saat istirahat. Membicarakan tentang apa saja. Selalu ada waktu untuk itu. Terkadang aku juga heran, bagaimana beliau membagi waktu. Selain kelasku, beliau juga sering berkeliling kelas lain. Semua akrab dengan Pak Darman. Semua sayang Pak Darman.

Bayak hal yang dibawa Pak Darman. Perubahan-perubahan yang sangat berarti. Aku masih sangat ingat bagaimana Pak Darman mengajarkan disiplin pada kami. Hanya beberapa kali beliau mengatakan bahwa kami semua, termasuk guru-guru, harus datang tepat waktu. Dapat dihitung jari berapa kali beliau mengatakannya. Sisanya, beliau mengatakannya dalam perbuatan. Dengan sepeda motor Honda tahun 70an, beliau selalu datang 15 menit sebelum bel masuk. Walaupun rumah beliau jauh, sekitar 5 km ke sekolah. Bandingkan dengan mayoritas murid dan guru yang domisilinya rata-rata tidak lebih dari 2 km dari sekolah. Saat datang, beliau pasti sudah rapi, wangi, dan tersenyum. Beliau tidak pernah lupa tersenyum. Setiap pagi setelah datang, beliau akan berkeliling kelas melihat murid-muridnya. SDku kecil, hanya terdiri dari enam kelas yang berjajar.

Wajah yang sangat berbeda akan terlihat pada kami dan guru-guru yang biasa datang telat. Kami juga tersenyum. Senyum malu tepatnya. Malu karena kami kalah datang dengan Pak Darman. Malu karena kami telat. Tidak ada banyak teguran. Pak Darman bukanlah orang yang banyak omong. Jika saat ini sedang trend kata-kata NATO (No Action Talk Only), bisa dikatakan Pak Darman adalah orang yang sulit menyandang gelar NATO. Tapi jangan tanya efeknya. Jauh lebih manjur daripada omelan pagi Bu Mujiasri saat kami telat dulu.
Saat Pak Darman banyak bicara adalah saat beliau mengobrol dengan kami waktu istirahat. Banyak nasehat yang diberikan beliau pada kami. Dengan kata-kata yang tenang, beliau mengajari kami banyak tentang hidup. Tidak menggurui. Tidak membosankan. Kami tidak merasa dikuliahi. Sering, anak-anak yang sedang bermain menghampiri gerombolan dimana ada Pak Darman.  Pak Darman magnet baru di sekolah kami.

Jujur, itulah yang selalu beliau tanamkan. Aku benar-benar ingat bagaimana beliau sering mengajari kami untuk menjadi manusia yang jujur. Jujur pada diri sendiri dan orang lain. Contoh beliau saat itu adalah kegiatan mencontek kami. Memang, walaupun sudah angkatan tertua dalam sekolah, kami masih sangat getol dalam hal mencontek saat ulangan. Beliau pernah bilang, jika tidak bisa mengerjakan soal, sudahlah jangan mencontek. Segeralah berpikir jawaban terbaik yang kita bisa dan keluar. Buat apa dipikir lama-lama jika kita tidak tahu jawabannya. Jujurlah pada dirimu sendiri bahwa kamu tidak bisa mengerjakannya, dan buatlah orang lain jujur dengan tidak bertanya jawaban. Integritas dan disiplin. Point tambahan dari nasehat kejujuran Pak Darman.

Orang yang jujur adalah orang yang disiplin dalam mempertahankan integritasnya. Aku selalu mengingatnya.

Pak Darman sangat mencintai kami semua, murid-muridnya. Untuk itulah beliau menjaga kami agar selalu berada pada jalur yang tepat dengan cara yang tepat. Semua perlakuan Pak Darman membuat kami, aku dan teman-temanku, bahagia. Bahagia dan bangga sekolah kecil kami memiliki beliau. 

Kepingan


Kalian pernah merasa dekat sekali dengan kematian? Aku pernah.

Saat itu aku kelas dua SMA. Sore hari aku pergi les. Naik sepeda motor, seperti biasa. Tapi sore itu tidak biasa.

Aku tertabrak. Sepeda motorku vs sepeda motor laki-laki. Aku terjatuh, dan orang yang menabrakku lari. Yang kuingat, sebelum aku jatuh, aku sempat mengucapkan astaghfirullah dengan keras. Setelah itu, aku hanya mendengar banyak suara ramai di sekelilingku. Aku tidak tahu bagaimana penampakanku saat itu. Aku hanya berpikir, aku harus mengabari orang rumah. Maka pertanyaan pertama yang kuajukan setelah aku ditolong seorang tukang becak adalah, “Pak, wartel dimana ya?”. Aku sempat menangkap wajah bingung orang itu mendengar pertanyaanku. Lalu tangannya menunjuk ke suatu arah yang tidak jauh. Aku minta diantarkan kesana.

Sesampainya di wartel, aku menelepon rumah. Kebetulan papa yang angkat. Aku hanya bilang, “Papa, adik kecelakaan di depan Permata Hijau, papa kesini sekarang ya”. Telepon kututup. Saat itu, di dalam KBU wartel dipasang kaca yang besar. Saat melihat dalam kaca itulah aku baru tahu rupaku. Seluruh gigi depanku, dari batas taring kanan dan kiri, mundur ke belakang hampir mencapai rahang. Semuanya patah. Ada yang patah setengah, ada yang tersisa hanya sepertiganya. Di wajahku ada guratan luka panjang. Mulai dari ujung kiri mata sebelah kiri hingga hampir mencapai ujung bawah hidung. Daging di bawah hidung dan bawah bibirku tercabik. Tidak banyak untungnya. Yang terakhir, aku tidak bisa menggerakkan tangan kiriku. Lemas rasanya. Penasaran, aku meraba tulang selangka kiri dan kananku. Tulang selangka kananku terasa menyambung dengan lengan. Tulang selangka kiriku tidak. Di tengahnya empuk, seperti tak bertulang. Sambil menunggu papa, aku membersihkan sisa-sisa patahan gigi di dalam mulutku dengan tisu. Alhamdulillah, tidak sakit.

Saat papa datang. Beliau hanya bisa terpaku melihat kondisiku. Papa tidak banyak bertanya, banyak diam. Aku bilang pada papa, kelihatannya tangan kiriku patah. Papa bertanya bagaimana aku bisa berkata seperti itu. Aku bilang, aku tidak bisa menggerakkan tangan kiriku. Saat itu papa bertanya, aku mau dibawa kemana. Ke rumah sakit atau ke dokter Ali, dokter keluarga kami. Aku bilang, aku mau ke dokter Ali. Sebelum ke dokter Ali, aku dan papa mampir ke rumah untuk menjemput mama. Sesampainya di rumah, mama yang menyambutku di teras menjerit tertahan melihat kondisiku. Mama spontan menangis. Aku bilang pada mama, “ Ma, mama jangan nangis ya.. Kalau mama nangis nanti adik juga ikut nangis”. Mendengar itu, mama berusaha menghapus air matanya. Aku sempat masuk ke rumah sebentar. Papa bilang, papa mau ambil uang dulu untuk ke dokter. Kudengar mama masuk ke kamar mandi lalu menyalakan air dengan keras. Belakangan aku tahu, mama menangis di dalam kamar mandi. Beliau menuruti kata-kataku untuk tidak menangis di hadapanku.

Kami berangkat ke dokter Ali sore itu. Hampir maghrib. Sesampainya di dokter Ali, aku langsung berbaring di kasur tempat prakteknya. Dokter Ali melihat kondisi tanganku. Kemudian beliau berbisik pada papa tentang sesuatu. Tak lama, tanganku sudah digendong dengan menggunakan kaos oblong yang disobek. Luka-lukaku dibersihkan. Sesaat kudengar dokter Ali menelepon koleganya sesama dokter, memintanya untuk menangani gigiku. Ternyata, dokter itulah tujuanku setelah tempat praktek dokter Ali.
Beliau dokter gigi. Sudah agak tua. Baik sekali. Aku langsung masuk dan duduk di kursi prakteknya. Kalian tahu kan? Kursi panjang dengan lampu di atasnya dan berbagai peralatan yang mengelilinginya. Saat beliau akan melihat gigiku, beliau berkata padaku apakah aku sudah makan. Aku jawab belum, aku puasa hari itu. Aku bahkan belum membatalkannya. Mendengar jawabanku, beliau menghentikan kegiatannya. Beliau bilang aku tidak bisa ditangani hari itu. Beliau takut aku tidak kuat dengan bius dan segala macam aktivitas untuk mengembalikan gigiku nantinya.

Perjalanan kami maghrib itu berlanjut ke RSUD Gambiran. Di sanalah aku dirawat. Malam itu kamar penuh. Suster bilang, sesuai aturan rumah sakit, kami harus menempati pavilion karena pangkat papaku dalam pegawai negeri. Karena pavilion penuh, malam itu aku ditempatkan di bangsal. Sebenarnya bagiku dimanapun akan tetap sama. Pihak rumah sakit ternyata serius dengan aturannya. Begitu ada satu penghuni pavilion yang keluar, aku langsung dipindahkan. Malam itu nenekku datang dari Ponorogo. Guru-guruku datang menjenguk. Aku tidak tahu, bagaimana kabar itu begitu cepat menyebar. Aku hanya bisa bersyukur, Tuhan begitu banyak mengirimkan orang yang menyayangiku.

Keputusan dokter adalah aku tidak bisa dioperasi besok, karena luka-lukaku yang masih bengkak. Aku pasrah, aku hanya bisa menunggu. Kenyataan berbeda kesokan hari. Aku masuk kamar operai pagi itu. Dengan diiringi papa, mama, mas ais, dan teman-teman aku didorong ke kamar operasi. Aku akan menjalani dua operasi sekaligus. Operasi tulang dan gigi.

Saat itulah aku merasa demikian dekat dengan kematian. Aku tidak pernah menjalani operasi sebelumnya. Hari ini aku akan dibius total. Sebelum masuk kamar operasi, aku hanya bisa berkata, Ya Allah saya titip mama, papa, mas ais, dan semua. Tolong jagalah mereka sebaik Engkau menjaga saya ketika saya masih hidup. Sisanya, saya pasrah padaMu.

Operasi berjalan sekitar 3 jam. Setelah selesai, aku yang masih setengah nyawa disadarkan dengan teriakan para perawat yang menanyakan namaku, “Ayo mbak, namanya siapa, ayo mbak!!”. Dengan lemah aku menjawab, “Bela”. Lalu kudengar mereka mengucap hamdalah. aku didorong keluar ruang operasi. Di luar, semua orang menyambutku. Belakangan aku tahu, wajahku pucat sekali waktu itu. Salah satu temanku bilang aku sudah seperti hampir mati. Sangat pucat. Papa menangis. Itulah hal yang luar biasa yang terjadi. Papa tidak pernah menangis sebelumnya. Mama bilang, itulah kali pertama mama melihat papa menangis di depan umum. Aku terharu.

Ternyata perjuangan belum selesai. Sesampainya di kamar, aku tidak bisa bernafas. Kudengar papa berteriak pada suster untuk mengambilkanku tabung oksigen. Sejak itu, selang oksigen membantuku bernafas. Ada satu hal lagi yang membuatku benar-benar merasakan rasanya sakit. Setiap  jam satu malam, suster akan datang ke kamarku untuk menyuntikkan cairan yang berfungsi sebagai antibiotic. Mereka bilang, suntikan ini penting untukku. Tapi sumpah! Suntikan itu sakit sekali. Rasanya panas dan menjalar melalui seluruh nadiku. Rasa panas itu baru akan berhenti ketika tubuhku sudah terasa menghangat. Aku benci suntikan itu. Sangat. Seringkali aku tidak ingin tidur hanya karena aku tahu, percuma aku tidur. Nanti malam aku akan menerima suntikan itu, dan sakitnya akan membuatku terjaga. Tapi apa daya, aku harus menjalaninya. Hal yang sangat aku syukuri adalah kemauan kakakku untuk bangun setiap malam saat suntikan itu diberikan. Mas Ais bangun untuk menemaniku. Dia merelakan tangannya kuremas saat aku diberi suntikan itu. Seberapa keras pun aku meremas, dia tidak mengeluarkan protes. Dia hanya ingin aku tahu bahwa aku tidak sendiri. Hal inilah yang menguatkanku menjalani malam.

Hari-hari selanjutnya, Alhamdulillah kondisiku semakin membaik. Banyak teman yang menjenguk. Suatu hari bahkan seluruh peleton barisan Paskibra yang aku latih di sekolah datang menjengukku. Betapa ramai rumah sakit. Tuhan sungguh baik.

Beberapa kali menjalani CT Scan, aku diijinkan pulang. Bahagia sekali.

Peristiwa ini menyadarkanku. Betapa banyak orang yang menyayangiku. Sangat menyayangiku. Tuhan sungguh sayang padaku. Dia memberiku hidup yang indah untuk dijalani, dijaga dan disyukuri.

Kepompong Kecil


Pagi itu cukup cerah. Di bawah pohon akasia depan kelas satu, kami berkumpul. Aku, Yudhi kentang, Ogik, dan Itin duduk melingkar. Kami sedang merencanakan sesuatu. Sesuatu yang besar. Rahasia. Hanya kami yang tahu. Tempat berkumpul ini kami pilih karena posisinya yang strategis. Di depan kelas dengan strata terendah di sekolah kami. Dengan posisi kami yang sudah kelas empat SD, kami percaya anak-anak kecil di dekat kami bahkan tidak akan berani melihat kami. Apalagi menguping. Jadi, posisi kami aman.

Kentang membuka pembicaraan. Dengan muka serius dia berkata, “harus hari ini!”. Dengan wajah serius pula seakan dialah pemimpin bagi kami, kami manggut-manggut tanda setuju. Harus hari ini. Terdengar Ogik buka suara, ”heh, emang gampang to menurutmu? Kita mau apa?”. Kami semua serempak tertunduk. Iya ya? Kami mau apa? Rencana kami bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Baiklah, kami berpikir keras.

sebenere aku punya ide”, kata Ogik. Penasaran, kami pun mendesak Ogik untuk membocorkan idenya. Pada dasarnya, sesuai dengan tujuan awal kami di sini, kami ingin mendapatkan lagi hak-hak kami, yaitu barang-barang kami yang disita oleh kepala sekolah kami yang dulu. Bu Mujriasi namanya. Kadangkala, beliau suka aneh dengan mengeluarkan larangan-larangan membawa benda tertentu yang tidak kami mengerti. Kemaren dulu, beliau sempat melarang kami untuk membawa tip-ex, alat untuk menghapus tulisan yang menggunakan bolpoin. Kami dilarang menggunakannya karena dianggap membuat hasil pekerjaan kami menjadi kotor, banyak bertebaran warna putih dimana-mana hasil kami men tip-ex. Tapi bagi kami, larangan itu sunggguh tidak masuk akal. Bukankah wajar jika seseorang membuat suatu kesalahan? Kami masih sering secara sembunyi-sembunyi membawa tip-ex untuk menghapus kesalahan-kesalahan dalam tulisan tugas kami, karena bagaimanapun kami masih saja sering melakukan kesalahan. Bu Ratmi, guru kelas kami juga tidak melarang. Beliau cuek saja dengan kelakuan kami.

Hingga suatu hari saat mengerjakan tugas matematika, tugas yang paling sering membuat kami harus menggunakan tip-ex, bu Muji melakukan inspeksi mendadak. Tak diragukan lagi, hampir satu kelas tip-exnya dirampas. Termasuk kami tentunya.

Kejadian itu bukanlah satu-satunya yang pernah kami alami. Di lain waktu, bu Muji juga pernah melarang kami membawa cutter. Alasannya simple. Membahayakan. Alasan sesimpel itu cukup membawa semua cutter di kotak pensil kami berpindah ke kantor Kepala Sekolah. Episode cutter inilah yang akhirnya mengantar kami berempat di bawah pohon akasia hari ini. Cutter Kentang dan Ogik bukanlah milik mereka sendiri. Masing-masing adalah milik kakak dan ayahnya. Bagi kami saat itu, cutter bukanlah barang yang murah untuk dibeli dengan uang saku kami. Motif ekonomi inilah yang melandasi niat Kentang dan Ogik untuk mendapatkan lagi barang-barang milik mereka. Celakanya, aku dan Itin adalah dua sahabat yang terpesona pada rencana mereka. Kami menganggap itu hebat. Idealisme kami membara. Semua barang yang asalnya milik kami haruslah kembali sebagai milik kami. Memang, saat itu bu Mujiasri sudah akan pindah dari sekolah kami. Hingga detik beliau mengumumkan akan pindah, beliau samasekali tidak menyinggung barang-barang yang telah dirampasnya.

Tidak ada alasan untuk merampas barang-barang milik kami dengan semena-mena, tanpa mengembalikannya kepada kami.  Itulah tekad kami. Walaupun saat itu kantor Kepala Sekolah merupakan tempat keramat bagi sebagian besar siswa, dan tidak ada siswa yang bisa dengan leluasa keluar masuk kantor, tapi tekad kami telah membara.

Jika kami jadi mengikuti paparan rencana Ogik, inilah yang akan kami lakukan. Siang hari nanti, pelajaran olahraga akan kosong karena bu Etty, guru olahraga kami, sakit. Saat itu kami akan minta ijin pada bu Mun, guru agama kami yang bertanggung jawab dalam urusan membereskan kantor Kepala Sekolah untuk ikut membantu mas Dar membersihkan kantor Kepala Sekolah. Saat bersih-bersih itulah, kami sekaligus akan mencari barang-barang kami yang hilang. Urusan mas Dar, itu mudah. Penjaga sekolah kami yang masih muda itu pasti tidak akan keberatan jika kami melakukan rencana kami. 

Siang tiba. Benar saja. Saat itu aku, Kentang, Ogik, dan Itin sudah terlihat sibuk membersihkan kantor Kepala Sekolah. Kami semua terlihat sangat seperti murid yang baik. Semua urusan ijin beres di tanganku. Urusan mas Dar sudah ditangani oleh Kentang. Untuk urusan penyimpanan barang kami yang kami temukan, Itin sudah mempersiapkan ransel besarnya.

Hampir selama pelajaran olahraga kami sibuk di kantor Kepala Sekolah. Tapi semua itu tidak sia-sia. Kami mendapatkan hampir semua barang yang pernah disita oleh Kepala Sekolah kami. Selain itu, kami mendapatkan bonus banyak barang lain. Pensil, bolpoin, penggaris yang entah milik siapa, oleh mas Dar diberikan pada kami. Betapa senang kami. Kentang dan Ogik lega karena ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk mengganti cutter milik kakak dan ayah mereka. Ditambah lagi dengan banyaknya bolpoin yang mereka terima. Mereka bisa menghemat pengeluaran untuk alat tulis selama paling tidak dua caturwulan. Aku dan Itin? Jangan ditanya. Kami sangat bahagia karena idealisme kami terpenuhi. Semua barang-barang kami kembali. Kami juga merasa hebat. Sangat hebat. Sebagai perempuan yang biasanya hanya bisa pasrah dan takut jika barangnya dirampas, kami lain. Kami bisa mendapatkan kembali semuanya. Kami bukanlah anak kecil lagi !!

Mega


Pergi ke rumah Mega sekarang !!! Kabar itu langsung menyebar. Bahkan tidak perlu tukang gossip atau tempel pengumuman untuk menyebarkannya. Semua tahu Mega. Semua kenal Mega. Mega yang baik. Mega yang ramah. Mega yang cantik. Mega yang baru saja naik kelas empat SD, dan Mega yang teman sebangkuku. Aku tahu dia, lebih dari siapapun. Aku tahu perjuangannya.

Mega bilang padaku, dia kena kanker otak. Saat itu kita masih kelas tiga Sekolah Dasar. Saat itu, aku tidak berpikir jauh. Aku tahu dia akan sembuh. Dia bilang, dia ditangani oleh dokter yang sangat pintar. Aku percaya. Mega begitu mencintai hidupnya. Dia tidak akan bertindak bodoh. Diceritakannya pula berbagai macam obat yang harus diminumnya. Banyak. Tapi dia berjanji padaku dia akan meminum semua obat itu sampai dia sembuh. Dia masih tersenyum. Seandainya kalian bisa tahu, dia sangat cantik dengan senyumnya..

Hingga tiba saat dimana kadangkala aku harus duduk sendiri. Mega bilang, dia harus berobat. Kemoterapi namanya. Semua itu dilakukannya agar dia sembuh. Aku percaya. Mega adalah orang yang jujur. Tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya. Aku bersabar. Aku yakin, jika dia sembuh, aku tidak akan duduk sendiri lagi.

Hingga suatu hari aku menyadari. Semakin lama aku semakin sering duduk sendiri. Tapi aku bergeming. Aku percaya Mega akan sembuh. Dia ditangani oleh dokter yang pintar, dan dia mau meminum semua obatnya. Dia anak yang baik. Tuhan pasti sayang padanya.

Guruku mulai semakin sering meminta kami mendoakan Mega. Aku menurut. Bukan karena aku pesimis dia akan kembali. Aku seratus persen optimis dia pasti kembali. Dia teman yang sangat baik. Hanya dia yang mau membantuku saat aku masih murid pindahan baru di SD itu. Guruku mengatakan, jika kita berdoa dengan ikhlas, Tuhan akan mengabulkan. Aku percaya itu, maka aku berdoa dengan setulus hati agar Tuhan segera meringankan sakit Mega. Agar aku bisa bermain lagi dengannya.

Suatu pagi aku mendapat kejutan. Mega masuk. Tapi dia tampak pucat dan kurus. Rambutnya hilang. Mega gundul. Padahal rambutnya tebal dan bagus. Dia bilang itu karena efek kemoterapi. Bagiku itu tidak penting. Mega tetap cantik. Mega tetap baik. Hari itu, aku dan Mega bermain sepuasnya.. Kami bermain bola bekel, menggambar, gatheng, dakon pakai batu. Semua permainan yang tidak memerlukan banyak gerakan. Mega bilang, dia tidak boleh terlalu capek. Aku mengerti. Tidak apa-apa. Masih banyak waktu. Saat ini yang penting dia sudah kembali. Aku senang sekali. Tuhan mengabulkan doaku.

Hingga pagi itu, di rumah Mega. Kita sekelas berkumpul disana. Sebuah mobil ambulans yang membawa dia pergi. Sirenenya memekakkan telinga. Kulihat ibu Mega pingsan saat sirene dibunyikan. Kakak-kakaknya menangis. Aku lemas. Ambulans itu membawa jenazah Mega. Pergi. Selamanya.

You’ll never know what it is, not until it’s gone..

Aku kangen Mega..

Senin, 17 Desember 2012

Potongan Puzzle

-->
Aku pernah berada dalam posisimu, yang begitu mengerti hingga detail terkecil darinya..
Iya, detail terkecil yang mungkin bahkan dia sendiri juga tidak memperhatikannya..
Kau tahu, aku selalu hafal kebiasaannya mencuci tangan sedemikian sering sebelum makan, caranya melapisi gelas dengan tisu saat embun dari es dalam gelas mulai menetes, memasukkan jam tepat pada tempatnya dalam tas. Aku tahu semua itu.
Setiap update statusnya, setiap comment commentnya, setiap status yang di "like" nya, aku tahu semua itu.

Aku pernah berada dalam posisimu, yang begitu bahagia saat berhasil mencuri kesempatan kecil untuk bisa bersama, walaupun aku juga tidak tahu apakah dia merasakan hal yang sama. Tapi tertawa berdua sudah sangat membahagiakan, walaupun lebih banyak aku yang terpekur menatapnya saat tertawa. Dia, dan dunianya..

Aku pernah merasakan hati seperti rasamu, yang selalu berdesir setiap kali sosoknya lewat. Hanya lewat, tanpa memandangmu yang terdiam dan gugup. Tapi entah kenapa, kau menikmati kediaman dan kegugupanmu itu. Sama sepertiku.

Aku sangat tahu bagaimana rasanya menangis sendirian. Kau bahkan tidak perlu curhat padaku untuk menggambarkan keadaanmu setiap malam. Aku tahu dari matamu, mata yang sama denganku setiap kali aku menatap cermin. Bagaimana rasanya menangis untuk seseorang yang bahkan tidak tahu air matamu. Sendiri.

Aku tahu semua itu, merasakan rasa yang kau rasakan. Keluh yang kau keluhkan. Tangis yang kau jeritkan. Pengakuan yang mati-matian kau tahan. Aku tahu semua itu.

Dan aku sangat tahu, sayang,, sangat tahu rasanya ketika kau menanyakan kepadaku : "Kenapa rasa ini harus ada hanya padaku??"..
Aku tahu sayang, karena jika kau tahu,, rasamu padanya, adalah rasaku padamu..
Dan aku ingin sekali bisa menatap matamu saat aku jawab : "Mungkin, karena kau belum bertemu potongan puzzle mu".


Mimpi Anya

Anya memandangi amplop yang baru diterimanya. Sederhana. Hanya sehelai amplop putih. Sudah tiga kali Anya menerima amplop yang persis sama. Tiga kali dalam tiga tahun, dengan isi yang selalu sama. Anya tidak membukanya, nanti saja. Dia sudah tahu isinya, dan mungkin sudah tidak terlalu penting untuk dipikirkan. 

Anya ingat, pertama kali ia menerima amplop itu dan membuka isinya, ia menangis keras-keras. Di sisi dipan ia bertanya-tanya, apa yang salah dengan usahanya. Anya sudah bekerja keras, atau paling tidak begitulah menurutnya. Masih sangat jelas di kenangannya, bagaimana ia menggugat Tuhan saat itu. Anya marah. Kenapa doa-doa dan usahanya tidak terjawab dengan manis? 
Anya ingat bagaimana lelahnya tidur setelah tangisan hari itu. 

Tahun berikutnya, Anya berniat kembali mencoba. Usaha yang lebih ia lakukan. Saat itu, posisi Anya memang lebih meningkat dibanding tahun sebelumnya. Paling tidak, dengan posisi barunya ia merasa memiliki kesempatan lebih untuk bisa. Namun perhitungan Anya tidak selamanya benar. Institusi tempatnya bekerja belum mengijinkannya untuk memakai nama mereka sebagai penjamin posisi Anya. Anya, dosen baru itu, kembali kecewa. Tapi bukan Anya jika menyerah sekarang. Anya bertekad kembali berjuang. Ia menjalin jaringan, menerobos sistem. Menemui orang-orang yang berada di pucuk pimpinan atas. Menerima berbagai alasan yang membuatnya gagal mendapat jaminan. Caci maki dan ejekan menjadi hal yang harus diakrabinya. Pun tak ada tempatnya bersandar kecuali keluarga dan teman dekat. 
Anya ditanya, mengapa harus begitu ambisius. Anya dikejar, mengapa harus merepotkan sistem yang sudah tertata hanya untuk ambisinya. Anya ditampar, dengan kata-kata yang mempertanyakan konstruksi gendernya: Anda wanita, mengapa harus begitu ngotot mengejar beasiswa? Anda tidak ingin menikah?
Namun Anya bergeming, ia hanya menginginkan satu hal: bersekolah lagi tanpa merepotkan orang tua. 
Anya ingat, ia sering menangis saat itu.

Tahun ketiga, Anya berjalan selangkah lebih maju. Anya mendapatkan jaminan dari institusi tempatnya bekerja untuk mendapatkan beasiswa. Anya girang. Perjuangan berdarah-darah yang dijalaninya selama dua tahun akhirnya sedikit berbuah manis. Anya merasa ia hampir sampai pada cita-citanya, mimpinya: sekolah lagi, tanpa merepotkan orang tua. Anya kembali mengejar, bahkan mungkin berlari. Anya akhirnya bisa tertawa ketika satu panggilan wawancara beasiswa menghampirinya. Anya berangkat dengan semangat. Anya belajar dengan giat. Ketika hasil akhirnya datang, Anya kemudian hanya bisa terdiam: ia gagal. Setelah semua perjuangan dan tangisan, kengototan dan keberhasilan kecilnya, akhirnya Anya harus kembali menerima: ia gagal. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena kuota yang sudah penuh untuk beasiswa ke negara yang ditujunya.
Anya ingat, ia kemudian bisa berpasrah.

Sepuluh menit sudah Anya memegang amplop putih itu. Amplop yang berisi pengumuman atas kegagalannya mendapatkan beasiswa. Satu hal yang sudah dicobanya tiga kali dalam tiga tahun yang berbeda. Anya tersenyum, mengenang semua kerja keras, tangis, peluh, keluh, harapan, dan beribu doa yang senantiasa ia panjatkan demi sebuah beasiswa. Anya tersenyum, membayangkan sekali lagi harus memberitahukan pada orangtuanya bahwa ia gagal memenuhi harapan mereka. Melihat sekali lagi wajah kecewa mereka. Anya tersenyum, merasakan sekali lagi jauhnya mimpi yang sangat ingin dipeluknya.

Anya ingat, salah satu temannya pernah berkata: Tuhan punya rencana, dan Ia akan men"delete" rencana yang tidak sesuai denganmu, dan meng "enter" rencana-rencana yang memang sesuai untukmu. Anya tersenyum, ia bahkan tidak bisa membayangkan satu pun rencana lagi saat ini.

Bertahun, Anya selalu mencoba untuk percaya pada rencana Tuhan, bertahun juga Anya selalu menggugat saat Tuhan tidak menjawab rencananya dengan manis. Bertahun, Anya belajar bahwa segalanya bisa ketika diusahakan semaksimal mungkin, saat ini ia sadar bahwa Tuhan-lah yang memegang izin, bukan usahanya. Failure does exist, bahkan ketika Anya sudah mengusahakannya dengan semua yang Anya punya. Anya dibuat tersadar, usaha adalah miliknya, keberhasilan adalah bagian dari izin Tuhan, dan ia tidak punya kekuasaan untuk mencampuri izin itu.

Tahun ketiga, masih dengan amplop putih beasiswa di tangannya. Anya tahu ia gagal, tidak perlu membuka amplopnya. Satu hal yang berubah, Anya tidak menggugat, pun menangis. Anya hanya tersenyum simpul. Kegagalan ini mengajarkannya untuk tetap berusaha meraih mimpinya, namun juga bisa pasrah dan percaya pada apapun nantinya rencana Tuhan.
Anya akan selalu ingat, dan tetap percaya : Tuhan itu baik, dan selalu memiliki rencana yang indah.