Kalian pernah merasa dekat sekali
dengan kematian? Aku pernah.
Saat itu aku kelas dua SMA. Sore hari
aku pergi les. Naik sepeda motor, seperti biasa. Tapi sore itu tidak biasa.
Aku tertabrak. Sepeda motorku vs
sepeda motor laki-laki. Aku terjatuh, dan orang yang menabrakku lari. Yang
kuingat, sebelum aku jatuh, aku sempat mengucapkan astaghfirullah dengan keras. Setelah itu, aku hanya mendengar
banyak suara ramai di sekelilingku. Aku tidak tahu bagaimana penampakanku saat
itu. Aku hanya berpikir, aku harus mengabari orang rumah. Maka pertanyaan
pertama yang kuajukan setelah aku ditolong seorang tukang becak adalah, “Pak, wartel dimana ya?”. Aku sempat
menangkap wajah bingung orang itu mendengar pertanyaanku. Lalu tangannya
menunjuk ke suatu arah yang tidak jauh. Aku minta diantarkan kesana.
Sesampainya di wartel, aku menelepon
rumah. Kebetulan papa yang angkat. Aku hanya bilang, “Papa, adik kecelakaan di depan Permata Hijau, papa kesini sekarang ya”.
Telepon kututup. Saat itu, di dalam KBU wartel dipasang kaca yang besar. Saat
melihat dalam kaca itulah aku baru tahu rupaku. Seluruh gigi depanku, dari batas
taring kanan dan kiri, mundur ke belakang hampir mencapai rahang. Semuanya
patah. Ada yang patah setengah, ada yang tersisa hanya sepertiganya. Di wajahku
ada guratan luka panjang. Mulai dari ujung kiri mata sebelah kiri hingga hampir
mencapai ujung bawah hidung. Daging di bawah hidung dan bawah bibirku tercabik.
Tidak banyak untungnya. Yang terakhir, aku tidak bisa menggerakkan tangan
kiriku. Lemas rasanya. Penasaran, aku meraba tulang selangka kiri dan kananku.
Tulang selangka kananku terasa menyambung dengan lengan. Tulang selangka kiriku
tidak. Di tengahnya empuk, seperti tak bertulang. Sambil menunggu papa, aku
membersihkan sisa-sisa patahan gigi di dalam mulutku dengan tisu.
Alhamdulillah, tidak sakit.
Saat papa datang. Beliau hanya bisa
terpaku melihat kondisiku. Papa tidak banyak bertanya, banyak diam. Aku bilang
pada papa, kelihatannya tangan kiriku patah. Papa bertanya bagaimana aku bisa
berkata seperti itu. Aku bilang, aku tidak bisa menggerakkan tangan kiriku.
Saat itu papa bertanya, aku mau dibawa kemana. Ke rumah sakit atau ke dokter
Ali, dokter keluarga kami. Aku bilang, aku mau ke dokter Ali. Sebelum ke dokter
Ali, aku dan papa mampir ke rumah untuk menjemput mama. Sesampainya di rumah,
mama yang menyambutku di teras menjerit tertahan melihat kondisiku. Mama
spontan menangis. Aku bilang pada mama, “
Ma, mama jangan nangis ya.. Kalau mama nangis nanti adik juga ikut nangis”.
Mendengar itu, mama berusaha menghapus air matanya. Aku sempat masuk ke rumah
sebentar. Papa bilang, papa mau ambil uang dulu untuk ke dokter. Kudengar mama
masuk ke kamar mandi lalu menyalakan air dengan keras. Belakangan aku tahu,
mama menangis di dalam kamar mandi. Beliau menuruti kata-kataku untuk tidak
menangis di hadapanku.
Kami berangkat ke dokter Ali sore
itu. Hampir maghrib. Sesampainya di dokter Ali, aku langsung berbaring di kasur
tempat prakteknya. Dokter Ali melihat kondisi tanganku. Kemudian beliau
berbisik pada papa tentang sesuatu. Tak lama, tanganku sudah digendong dengan
menggunakan kaos oblong yang disobek. Luka-lukaku dibersihkan. Sesaat kudengar
dokter Ali menelepon koleganya sesama dokter, memintanya untuk menangani
gigiku. Ternyata, dokter itulah tujuanku setelah tempat praktek dokter Ali.
Beliau dokter gigi. Sudah agak tua.
Baik sekali. Aku langsung masuk dan duduk di kursi prakteknya. Kalian tahu kan?
Kursi panjang dengan lampu di atasnya dan berbagai peralatan yang
mengelilinginya. Saat beliau akan melihat gigiku, beliau berkata padaku apakah
aku sudah makan. Aku jawab belum, aku puasa hari itu. Aku bahkan belum
membatalkannya. Mendengar jawabanku, beliau menghentikan kegiatannya. Beliau
bilang aku tidak bisa ditangani hari itu. Beliau takut aku tidak kuat dengan
bius dan segala macam aktivitas untuk mengembalikan gigiku nantinya.
Perjalanan kami maghrib itu berlanjut
ke RSUD Gambiran. Di sanalah aku dirawat. Malam itu kamar penuh. Suster bilang,
sesuai aturan rumah sakit, kami harus menempati pavilion karena pangkat papaku
dalam pegawai negeri. Karena pavilion penuh, malam itu aku ditempatkan di bangsal.
Sebenarnya bagiku dimanapun akan tetap sama. Pihak rumah sakit ternyata serius
dengan aturannya. Begitu ada satu penghuni pavilion yang keluar, aku langsung
dipindahkan. Malam itu nenekku datang dari Ponorogo. Guru-guruku datang
menjenguk. Aku tidak tahu, bagaimana kabar itu begitu cepat menyebar. Aku hanya
bisa bersyukur, Tuhan begitu banyak mengirimkan orang yang menyayangiku.
Keputusan dokter adalah aku tidak
bisa dioperasi besok, karena luka-lukaku yang masih bengkak. Aku pasrah, aku
hanya bisa menunggu. Kenyataan berbeda kesokan hari. Aku masuk kamar operai
pagi itu. Dengan diiringi papa, mama, mas ais, dan teman-teman aku didorong ke
kamar operasi. Aku akan menjalani dua operasi sekaligus. Operasi tulang dan
gigi.
Saat itulah aku merasa demikian dekat
dengan kematian. Aku tidak pernah menjalani operasi sebelumnya. Hari ini aku
akan dibius total. Sebelum masuk kamar operasi, aku hanya bisa berkata, Ya Allah saya titip mama, papa, mas ais, dan
semua. Tolong jagalah mereka sebaik Engkau menjaga saya ketika saya masih
hidup. Sisanya, saya pasrah padaMu.
Operasi berjalan sekitar 3 jam.
Setelah selesai, aku yang masih setengah nyawa disadarkan dengan teriakan para
perawat yang menanyakan namaku, “Ayo
mbak, namanya siapa, ayo mbak!!”. Dengan lemah aku menjawab, “Bela”. Lalu kudengar mereka mengucap
hamdalah. aku didorong keluar ruang operasi. Di luar, semua orang menyambutku.
Belakangan aku tahu, wajahku pucat sekali waktu itu. Salah satu temanku bilang
aku sudah seperti hampir mati. Sangat pucat. Papa menangis. Itulah hal yang
luar biasa yang terjadi. Papa tidak pernah menangis sebelumnya. Mama bilang,
itulah kali pertama mama melihat papa menangis di depan umum. Aku terharu.
Ternyata perjuangan belum selesai.
Sesampainya di kamar, aku tidak bisa bernafas. Kudengar papa berteriak pada
suster untuk mengambilkanku tabung oksigen. Sejak itu, selang oksigen
membantuku bernafas. Ada satu hal lagi yang membuatku benar-benar merasakan
rasanya sakit. Setiap jam satu malam,
suster akan datang ke kamarku untuk menyuntikkan cairan yang berfungsi sebagai
antibiotic. Mereka bilang, suntikan ini penting untukku. Tapi sumpah! Suntikan
itu sakit sekali. Rasanya panas dan menjalar melalui seluruh nadiku. Rasa panas
itu baru akan berhenti ketika tubuhku sudah terasa menghangat. Aku benci
suntikan itu. Sangat. Seringkali aku tidak ingin tidur hanya karena aku tahu,
percuma aku tidur. Nanti malam aku akan menerima suntikan itu, dan sakitnya
akan membuatku terjaga. Tapi apa daya, aku harus menjalaninya. Hal yang sangat
aku syukuri adalah kemauan kakakku untuk bangun setiap malam saat suntikan itu
diberikan. Mas Ais bangun untuk menemaniku. Dia merelakan tangannya kuremas
saat aku diberi suntikan itu. Seberapa keras pun aku meremas, dia tidak
mengeluarkan protes. Dia hanya ingin aku tahu bahwa aku tidak sendiri. Hal
inilah yang menguatkanku menjalani malam.
Hari-hari selanjutnya, Alhamdulillah
kondisiku semakin membaik. Banyak teman yang menjenguk. Suatu hari bahkan
seluruh peleton barisan Paskibra yang aku latih di sekolah datang menjengukku. Betapa
ramai rumah sakit. Tuhan sungguh baik.
Beberapa kali menjalani CT Scan, aku
diijinkan pulang. Bahagia sekali.
Peristiwa ini menyadarkanku. Betapa
banyak orang yang menyayangiku. Sangat menyayangiku. Tuhan sungguh sayang
padaku. Dia memberiku hidup yang indah untuk dijalani, dijaga dan disyukuri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar