Anya memandangi amplop yang baru diterimanya. Sederhana. Hanya sehelai amplop putih. Sudah tiga kali Anya menerima amplop yang persis sama. Tiga kali dalam tiga tahun, dengan isi yang selalu sama. Anya tidak membukanya, nanti saja. Dia sudah tahu isinya, dan mungkin sudah tidak terlalu penting untuk dipikirkan.
Anya ingat, pertama kali ia menerima amplop itu dan membuka isinya, ia menangis keras-keras. Di sisi dipan ia bertanya-tanya, apa yang salah dengan usahanya. Anya sudah bekerja keras, atau paling tidak begitulah menurutnya. Masih sangat jelas di kenangannya, bagaimana ia menggugat Tuhan saat itu. Anya marah. Kenapa doa-doa dan usahanya tidak terjawab dengan manis?
Anya ingat bagaimana lelahnya tidur setelah tangisan hari itu.
Tahun berikutnya, Anya berniat kembali mencoba. Usaha yang lebih ia lakukan. Saat itu, posisi Anya memang lebih meningkat dibanding tahun sebelumnya. Paling tidak, dengan posisi barunya ia merasa memiliki kesempatan lebih untuk bisa. Namun perhitungan Anya tidak selamanya benar. Institusi tempatnya bekerja belum mengijinkannya untuk memakai nama mereka sebagai penjamin posisi Anya. Anya, dosen baru itu, kembali kecewa. Tapi bukan Anya jika menyerah sekarang. Anya bertekad kembali berjuang. Ia menjalin jaringan, menerobos sistem. Menemui orang-orang yang berada di pucuk pimpinan atas. Menerima berbagai alasan yang membuatnya gagal mendapat jaminan. Caci maki dan ejekan menjadi hal yang harus diakrabinya. Pun tak ada tempatnya bersandar kecuali keluarga dan teman dekat.
Anya ditanya, mengapa harus begitu ambisius. Anya dikejar, mengapa harus merepotkan sistem yang sudah tertata hanya untuk ambisinya. Anya ditampar, dengan kata-kata yang mempertanyakan konstruksi gendernya: Anda wanita, mengapa harus begitu ngotot mengejar beasiswa? Anda tidak ingin menikah?
Namun Anya bergeming, ia hanya menginginkan satu hal: bersekolah lagi tanpa merepotkan orang tua.
Namun Anya bergeming, ia hanya menginginkan satu hal: bersekolah lagi tanpa merepotkan orang tua.
Anya ingat, ia sering menangis saat itu.
Tahun ketiga, Anya berjalan selangkah lebih maju. Anya mendapatkan jaminan dari institusi tempatnya bekerja untuk mendapatkan beasiswa. Anya girang. Perjuangan berdarah-darah yang dijalaninya selama dua tahun akhirnya sedikit berbuah manis. Anya merasa ia hampir sampai pada cita-citanya, mimpinya: sekolah lagi, tanpa merepotkan orang tua. Anya kembali mengejar, bahkan mungkin berlari. Anya akhirnya bisa tertawa ketika satu panggilan wawancara beasiswa menghampirinya. Anya berangkat dengan semangat. Anya belajar dengan giat. Ketika hasil akhirnya datang, Anya kemudian hanya bisa terdiam: ia gagal. Setelah semua perjuangan dan tangisan, kengototan dan keberhasilan kecilnya, akhirnya Anya harus kembali menerima: ia gagal. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena kuota yang sudah penuh untuk beasiswa ke negara yang ditujunya.
Anya ingat, ia kemudian bisa berpasrah.
Sepuluh menit sudah Anya memegang amplop putih itu. Amplop yang berisi pengumuman atas kegagalannya mendapatkan beasiswa. Satu hal yang sudah dicobanya tiga kali dalam tiga tahun yang berbeda. Anya tersenyum, mengenang semua kerja keras, tangis, peluh, keluh, harapan, dan beribu doa yang senantiasa ia panjatkan demi sebuah beasiswa. Anya tersenyum, membayangkan sekali lagi harus memberitahukan pada orangtuanya bahwa ia gagal memenuhi harapan mereka. Melihat sekali lagi wajah kecewa mereka. Anya tersenyum, merasakan sekali lagi jauhnya mimpi yang sangat ingin dipeluknya.
Anya ingat, salah satu temannya pernah berkata: Tuhan punya rencana, dan Ia akan men"delete" rencana yang tidak sesuai denganmu, dan meng "enter" rencana-rencana yang memang sesuai untukmu. Anya tersenyum, ia bahkan tidak bisa membayangkan satu pun rencana lagi saat ini.
Bertahun, Anya selalu mencoba untuk percaya pada rencana Tuhan, bertahun juga Anya selalu menggugat saat Tuhan tidak menjawab rencananya dengan manis. Bertahun, Anya belajar bahwa segalanya bisa ketika diusahakan semaksimal mungkin, saat ini ia sadar bahwa Tuhan-lah yang memegang izin, bukan usahanya. Failure does exist, bahkan ketika Anya sudah mengusahakannya dengan semua yang Anya punya. Anya dibuat tersadar, usaha adalah miliknya, keberhasilan adalah bagian dari izin Tuhan, dan ia tidak punya kekuasaan untuk mencampuri izin itu.
Tahun ketiga, masih dengan amplop putih beasiswa di tangannya. Anya tahu ia gagal, tidak perlu membuka amplopnya. Satu hal yang berubah, Anya tidak menggugat, pun menangis. Anya hanya tersenyum simpul. Kegagalan ini mengajarkannya untuk tetap berusaha meraih mimpinya, namun juga bisa pasrah dan percaya pada apapun nantinya rencana Tuhan.
Anya akan selalu ingat, dan tetap percaya : Tuhan itu baik, dan selalu memiliki rencana yang indah.
Tahun ketiga, Anya berjalan selangkah lebih maju. Anya mendapatkan jaminan dari institusi tempatnya bekerja untuk mendapatkan beasiswa. Anya girang. Perjuangan berdarah-darah yang dijalaninya selama dua tahun akhirnya sedikit berbuah manis. Anya merasa ia hampir sampai pada cita-citanya, mimpinya: sekolah lagi, tanpa merepotkan orang tua. Anya kembali mengejar, bahkan mungkin berlari. Anya akhirnya bisa tertawa ketika satu panggilan wawancara beasiswa menghampirinya. Anya berangkat dengan semangat. Anya belajar dengan giat. Ketika hasil akhirnya datang, Anya kemudian hanya bisa terdiam: ia gagal. Setelah semua perjuangan dan tangisan, kengototan dan keberhasilan kecilnya, akhirnya Anya harus kembali menerima: ia gagal. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena kuota yang sudah penuh untuk beasiswa ke negara yang ditujunya.
Anya ingat, ia kemudian bisa berpasrah.
Sepuluh menit sudah Anya memegang amplop putih itu. Amplop yang berisi pengumuman atas kegagalannya mendapatkan beasiswa. Satu hal yang sudah dicobanya tiga kali dalam tiga tahun yang berbeda. Anya tersenyum, mengenang semua kerja keras, tangis, peluh, keluh, harapan, dan beribu doa yang senantiasa ia panjatkan demi sebuah beasiswa. Anya tersenyum, membayangkan sekali lagi harus memberitahukan pada orangtuanya bahwa ia gagal memenuhi harapan mereka. Melihat sekali lagi wajah kecewa mereka. Anya tersenyum, merasakan sekali lagi jauhnya mimpi yang sangat ingin dipeluknya.
Anya ingat, salah satu temannya pernah berkata: Tuhan punya rencana, dan Ia akan men"delete" rencana yang tidak sesuai denganmu, dan meng "enter" rencana-rencana yang memang sesuai untukmu. Anya tersenyum, ia bahkan tidak bisa membayangkan satu pun rencana lagi saat ini.
Bertahun, Anya selalu mencoba untuk percaya pada rencana Tuhan, bertahun juga Anya selalu menggugat saat Tuhan tidak menjawab rencananya dengan manis. Bertahun, Anya belajar bahwa segalanya bisa ketika diusahakan semaksimal mungkin, saat ini ia sadar bahwa Tuhan-lah yang memegang izin, bukan usahanya. Failure does exist, bahkan ketika Anya sudah mengusahakannya dengan semua yang Anya punya. Anya dibuat tersadar, usaha adalah miliknya, keberhasilan adalah bagian dari izin Tuhan, dan ia tidak punya kekuasaan untuk mencampuri izin itu.
Tahun ketiga, masih dengan amplop putih beasiswa di tangannya. Anya tahu ia gagal, tidak perlu membuka amplopnya. Satu hal yang berubah, Anya tidak menggugat, pun menangis. Anya hanya tersenyum simpul. Kegagalan ini mengajarkannya untuk tetap berusaha meraih mimpinya, namun juga bisa pasrah dan percaya pada apapun nantinya rencana Tuhan.
Anya akan selalu ingat, dan tetap percaya : Tuhan itu baik, dan selalu memiliki rencana yang indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar