Orang bilang cinta itu anugerah. Bisa
jadi. Paling tidak, lewat cinta kita bisa membuat orang lain bahagia.
Kelas enam SD, aku merasa aku
menyayangi seseorang. Seseorang yang sangat istimewa. Belum pernah kutemui
laki-laki seperti dia. Hanya papa dan kakak laki-lakiku lah yang
mengalahkannya. Klise, dia baik. Berwibawa. Kata-katanya hangat didengar.
Hampir setiap hari aku bertemu dengannya. Sungguh, aku ingin bisa seperti dia.
Perasaan kagumku seiring dengan rasa sayangku padanya.
Namanya Darman. Namun jangan harap
aku akan memanggilnya dengan sebutan itu. Aku selalu memanggilnya dengan
panggilan Pak Darman. Beliau kepala sekolah SDku. Jangan salah, beliau sudah
sangat tua. Hampir seusia kakekku. Mungkin sekitar 60an. Kalian pasti bingung.
Bukan perasaan sayang seperti kekasih yang kurasakan. Bukan. Tapi perasaan
sayang yang istimewa. Sulit digambarkan. Dia orang yang berarti dan berpengaruh
pada hidupku nantinya. Hingga sekarang.
Pak Darman datang ke sekolahku
menggantikan Bu Mujiasri. Sangat berbeda dengan Bu Muji yang otoriter, Pak
Darman sangat demokratis. Beliau membebaskan kami membawa apa saja yang kami
rasa perlu dalam proses belajar kami. Asalkan semua itu tidak kelewatan ataupun
membahayakan. Beliau juga sering mengajak aku dan teman-temanku ngobrol saat
istirahat. Membicarakan tentang apa saja. Selalu ada waktu untuk itu. Terkadang
aku juga heran, bagaimana beliau membagi waktu. Selain kelasku, beliau juga
sering berkeliling kelas lain. Semua akrab dengan Pak Darman. Semua sayang Pak
Darman.
Bayak hal yang dibawa Pak Darman.
Perubahan-perubahan yang sangat berarti. Aku masih sangat ingat bagaimana Pak
Darman mengajarkan disiplin pada kami. Hanya beberapa kali beliau mengatakan
bahwa kami semua, termasuk guru-guru, harus datang tepat waktu. Dapat dihitung
jari berapa kali beliau mengatakannya. Sisanya, beliau mengatakannya dalam
perbuatan. Dengan sepeda motor Honda tahun 70an, beliau selalu datang 15 menit
sebelum bel masuk. Walaupun rumah beliau jauh, sekitar 5 km ke sekolah.
Bandingkan dengan mayoritas murid dan guru yang domisilinya rata-rata tidak
lebih dari 2 km dari sekolah. Saat datang, beliau pasti sudah rapi, wangi, dan
tersenyum. Beliau tidak pernah lupa tersenyum. Setiap pagi setelah datang,
beliau akan berkeliling kelas melihat murid-muridnya. SDku kecil, hanya terdiri
dari enam kelas yang berjajar.
Wajah yang sangat berbeda akan
terlihat pada kami dan guru-guru yang biasa datang telat. Kami juga tersenyum.
Senyum malu tepatnya. Malu karena kami kalah datang dengan Pak Darman. Malu
karena kami telat. Tidak ada banyak teguran. Pak Darman bukanlah orang yang
banyak omong. Jika saat ini sedang trend kata-kata NATO (No Action Talk Only), bisa dikatakan Pak Darman adalah orang yang
sulit menyandang gelar NATO. Tapi jangan tanya efeknya. Jauh lebih manjur
daripada omelan pagi Bu Mujiasri saat kami telat dulu.
Saat Pak Darman banyak bicara adalah
saat beliau mengobrol dengan kami waktu istirahat. Banyak nasehat yang
diberikan beliau pada kami. Dengan kata-kata yang tenang, beliau mengajari kami
banyak tentang hidup. Tidak menggurui. Tidak membosankan. Kami tidak merasa
dikuliahi. Sering, anak-anak yang sedang bermain menghampiri gerombolan dimana
ada Pak Darman. Pak Darman magnet baru
di sekolah kami.
Jujur, itulah yang selalu beliau
tanamkan. Aku benar-benar ingat bagaimana beliau sering mengajari kami untuk
menjadi manusia yang jujur. Jujur pada diri sendiri dan orang lain. Contoh
beliau saat itu adalah kegiatan mencontek kami. Memang, walaupun sudah angkatan
tertua dalam sekolah, kami masih sangat getol dalam hal mencontek saat ulangan.
Beliau pernah bilang, jika tidak bisa mengerjakan soal, sudahlah jangan
mencontek. Segeralah berpikir jawaban terbaik yang kita bisa dan keluar. Buat
apa dipikir lama-lama jika kita tidak tahu jawabannya. Jujurlah pada dirimu
sendiri bahwa kamu tidak bisa mengerjakannya, dan buatlah orang lain jujur
dengan tidak bertanya jawaban. Integritas dan disiplin. Point tambahan dari
nasehat kejujuran Pak Darman.
Orang yang jujur adalah orang yang disiplin dalam mempertahankan
integritasnya. Aku
selalu mengingatnya.
Pak Darman sangat mencintai kami
semua, murid-muridnya. Untuk itulah beliau menjaga kami agar selalu berada pada
jalur yang tepat dengan cara yang tepat. Semua perlakuan Pak Darman membuat
kami, aku dan teman-temanku, bahagia. Bahagia dan bangga sekolah kecil kami
memiliki beliau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar