Selasa, 18 Desember 2012

Pak Darman


Orang bilang cinta itu anugerah. Bisa jadi. Paling tidak, lewat cinta kita bisa membuat orang lain bahagia.

Kelas enam SD, aku merasa aku menyayangi seseorang. Seseorang yang sangat istimewa. Belum pernah kutemui laki-laki seperti dia. Hanya papa dan kakak laki-lakiku lah yang mengalahkannya. Klise, dia baik. Berwibawa. Kata-katanya hangat didengar. Hampir setiap hari aku bertemu dengannya. Sungguh, aku ingin bisa seperti dia. Perasaan kagumku seiring dengan rasa sayangku padanya.

Namanya Darman. Namun jangan harap aku akan memanggilnya dengan sebutan itu. Aku selalu memanggilnya dengan panggilan Pak Darman. Beliau kepala sekolah SDku. Jangan salah, beliau sudah sangat tua. Hampir seusia kakekku. Mungkin sekitar 60an. Kalian pasti bingung. Bukan perasaan sayang seperti kekasih yang kurasakan. Bukan. Tapi perasaan sayang yang istimewa. Sulit digambarkan. Dia orang yang berarti dan berpengaruh pada hidupku nantinya. Hingga sekarang.

Pak Darman datang ke sekolahku menggantikan Bu Mujiasri. Sangat berbeda dengan Bu Muji yang otoriter, Pak Darman sangat demokratis. Beliau membebaskan kami membawa apa saja yang kami rasa perlu dalam proses belajar kami. Asalkan semua itu tidak kelewatan ataupun membahayakan. Beliau juga sering mengajak aku dan teman-temanku ngobrol saat istirahat. Membicarakan tentang apa saja. Selalu ada waktu untuk itu. Terkadang aku juga heran, bagaimana beliau membagi waktu. Selain kelasku, beliau juga sering berkeliling kelas lain. Semua akrab dengan Pak Darman. Semua sayang Pak Darman.

Bayak hal yang dibawa Pak Darman. Perubahan-perubahan yang sangat berarti. Aku masih sangat ingat bagaimana Pak Darman mengajarkan disiplin pada kami. Hanya beberapa kali beliau mengatakan bahwa kami semua, termasuk guru-guru, harus datang tepat waktu. Dapat dihitung jari berapa kali beliau mengatakannya. Sisanya, beliau mengatakannya dalam perbuatan. Dengan sepeda motor Honda tahun 70an, beliau selalu datang 15 menit sebelum bel masuk. Walaupun rumah beliau jauh, sekitar 5 km ke sekolah. Bandingkan dengan mayoritas murid dan guru yang domisilinya rata-rata tidak lebih dari 2 km dari sekolah. Saat datang, beliau pasti sudah rapi, wangi, dan tersenyum. Beliau tidak pernah lupa tersenyum. Setiap pagi setelah datang, beliau akan berkeliling kelas melihat murid-muridnya. SDku kecil, hanya terdiri dari enam kelas yang berjajar.

Wajah yang sangat berbeda akan terlihat pada kami dan guru-guru yang biasa datang telat. Kami juga tersenyum. Senyum malu tepatnya. Malu karena kami kalah datang dengan Pak Darman. Malu karena kami telat. Tidak ada banyak teguran. Pak Darman bukanlah orang yang banyak omong. Jika saat ini sedang trend kata-kata NATO (No Action Talk Only), bisa dikatakan Pak Darman adalah orang yang sulit menyandang gelar NATO. Tapi jangan tanya efeknya. Jauh lebih manjur daripada omelan pagi Bu Mujiasri saat kami telat dulu.
Saat Pak Darman banyak bicara adalah saat beliau mengobrol dengan kami waktu istirahat. Banyak nasehat yang diberikan beliau pada kami. Dengan kata-kata yang tenang, beliau mengajari kami banyak tentang hidup. Tidak menggurui. Tidak membosankan. Kami tidak merasa dikuliahi. Sering, anak-anak yang sedang bermain menghampiri gerombolan dimana ada Pak Darman.  Pak Darman magnet baru di sekolah kami.

Jujur, itulah yang selalu beliau tanamkan. Aku benar-benar ingat bagaimana beliau sering mengajari kami untuk menjadi manusia yang jujur. Jujur pada diri sendiri dan orang lain. Contoh beliau saat itu adalah kegiatan mencontek kami. Memang, walaupun sudah angkatan tertua dalam sekolah, kami masih sangat getol dalam hal mencontek saat ulangan. Beliau pernah bilang, jika tidak bisa mengerjakan soal, sudahlah jangan mencontek. Segeralah berpikir jawaban terbaik yang kita bisa dan keluar. Buat apa dipikir lama-lama jika kita tidak tahu jawabannya. Jujurlah pada dirimu sendiri bahwa kamu tidak bisa mengerjakannya, dan buatlah orang lain jujur dengan tidak bertanya jawaban. Integritas dan disiplin. Point tambahan dari nasehat kejujuran Pak Darman.

Orang yang jujur adalah orang yang disiplin dalam mempertahankan integritasnya. Aku selalu mengingatnya.

Pak Darman sangat mencintai kami semua, murid-muridnya. Untuk itulah beliau menjaga kami agar selalu berada pada jalur yang tepat dengan cara yang tepat. Semua perlakuan Pak Darman membuat kami, aku dan teman-temanku, bahagia. Bahagia dan bangga sekolah kecil kami memiliki beliau. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar