Pergi ke rumah Mega sekarang !!!
Kabar itu langsung menyebar. Bahkan tidak perlu tukang gossip atau tempel
pengumuman untuk menyebarkannya. Semua tahu Mega. Semua kenal Mega. Mega yang
baik. Mega yang ramah. Mega yang cantik. Mega yang baru saja naik kelas empat
SD, dan Mega yang teman sebangkuku. Aku tahu dia, lebih dari siapapun. Aku tahu
perjuangannya.
Mega bilang padaku, dia kena kanker
otak. Saat itu kita masih kelas tiga Sekolah Dasar. Saat itu, aku tidak
berpikir jauh. Aku tahu dia akan sembuh. Dia bilang, dia ditangani oleh dokter
yang sangat pintar. Aku percaya. Mega begitu mencintai hidupnya. Dia tidak akan
bertindak bodoh. Diceritakannya pula berbagai macam obat yang harus diminumnya.
Banyak. Tapi dia berjanji padaku dia akan meminum semua obat itu sampai dia
sembuh. Dia masih tersenyum. Seandainya kalian bisa tahu, dia sangat cantik
dengan senyumnya..
Hingga tiba saat dimana kadangkala
aku harus duduk sendiri. Mega bilang, dia harus berobat. Kemoterapi namanya.
Semua itu dilakukannya agar dia sembuh. Aku percaya. Mega adalah orang yang
jujur. Tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya. Aku bersabar. Aku yakin,
jika dia sembuh, aku tidak akan duduk sendiri lagi.
Hingga suatu hari aku menyadari.
Semakin lama aku semakin sering duduk sendiri. Tapi aku bergeming. Aku percaya
Mega akan sembuh. Dia ditangani oleh dokter yang pintar, dan dia mau meminum
semua obatnya. Dia anak yang baik. Tuhan pasti sayang padanya.
Guruku mulai semakin sering meminta
kami mendoakan Mega. Aku menurut. Bukan karena aku pesimis dia akan kembali.
Aku seratus persen optimis dia pasti kembali. Dia teman yang sangat baik. Hanya
dia yang mau membantuku saat aku masih murid pindahan baru di SD itu. Guruku
mengatakan, jika kita berdoa dengan ikhlas, Tuhan akan mengabulkan. Aku percaya
itu, maka aku berdoa dengan setulus hati agar Tuhan segera meringankan sakit
Mega. Agar aku bisa bermain lagi dengannya.
Suatu pagi aku mendapat kejutan. Mega
masuk. Tapi dia tampak pucat dan kurus. Rambutnya hilang. Mega gundul. Padahal
rambutnya tebal dan bagus. Dia bilang itu karena efek kemoterapi. Bagiku itu
tidak penting. Mega tetap cantik. Mega tetap baik. Hari itu, aku dan Mega
bermain sepuasnya.. Kami bermain bola bekel, menggambar, gatheng, dakon pakai batu. Semua permainan yang tidak memerlukan
banyak gerakan. Mega bilang, dia tidak boleh terlalu capek. Aku mengerti. Tidak
apa-apa. Masih banyak waktu. Saat ini yang penting dia sudah kembali. Aku
senang sekali. Tuhan mengabulkan doaku.
Hingga pagi itu, di rumah Mega. Kita
sekelas berkumpul disana. Sebuah mobil ambulans yang membawa dia pergi.
Sirenenya memekakkan telinga. Kulihat ibu Mega pingsan saat sirene dibunyikan. Kakak-kakaknya
menangis. Aku lemas. Ambulans itu membawa jenazah Mega. Pergi. Selamanya.
You’ll never know what it is, not until it’s gone..
Aku kangen Mega..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar