Selasa, 18 Desember 2012

Mega


Pergi ke rumah Mega sekarang !!! Kabar itu langsung menyebar. Bahkan tidak perlu tukang gossip atau tempel pengumuman untuk menyebarkannya. Semua tahu Mega. Semua kenal Mega. Mega yang baik. Mega yang ramah. Mega yang cantik. Mega yang baru saja naik kelas empat SD, dan Mega yang teman sebangkuku. Aku tahu dia, lebih dari siapapun. Aku tahu perjuangannya.

Mega bilang padaku, dia kena kanker otak. Saat itu kita masih kelas tiga Sekolah Dasar. Saat itu, aku tidak berpikir jauh. Aku tahu dia akan sembuh. Dia bilang, dia ditangani oleh dokter yang sangat pintar. Aku percaya. Mega begitu mencintai hidupnya. Dia tidak akan bertindak bodoh. Diceritakannya pula berbagai macam obat yang harus diminumnya. Banyak. Tapi dia berjanji padaku dia akan meminum semua obat itu sampai dia sembuh. Dia masih tersenyum. Seandainya kalian bisa tahu, dia sangat cantik dengan senyumnya..

Hingga tiba saat dimana kadangkala aku harus duduk sendiri. Mega bilang, dia harus berobat. Kemoterapi namanya. Semua itu dilakukannya agar dia sembuh. Aku percaya. Mega adalah orang yang jujur. Tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya. Aku bersabar. Aku yakin, jika dia sembuh, aku tidak akan duduk sendiri lagi.

Hingga suatu hari aku menyadari. Semakin lama aku semakin sering duduk sendiri. Tapi aku bergeming. Aku percaya Mega akan sembuh. Dia ditangani oleh dokter yang pintar, dan dia mau meminum semua obatnya. Dia anak yang baik. Tuhan pasti sayang padanya.

Guruku mulai semakin sering meminta kami mendoakan Mega. Aku menurut. Bukan karena aku pesimis dia akan kembali. Aku seratus persen optimis dia pasti kembali. Dia teman yang sangat baik. Hanya dia yang mau membantuku saat aku masih murid pindahan baru di SD itu. Guruku mengatakan, jika kita berdoa dengan ikhlas, Tuhan akan mengabulkan. Aku percaya itu, maka aku berdoa dengan setulus hati agar Tuhan segera meringankan sakit Mega. Agar aku bisa bermain lagi dengannya.

Suatu pagi aku mendapat kejutan. Mega masuk. Tapi dia tampak pucat dan kurus. Rambutnya hilang. Mega gundul. Padahal rambutnya tebal dan bagus. Dia bilang itu karena efek kemoterapi. Bagiku itu tidak penting. Mega tetap cantik. Mega tetap baik. Hari itu, aku dan Mega bermain sepuasnya.. Kami bermain bola bekel, menggambar, gatheng, dakon pakai batu. Semua permainan yang tidak memerlukan banyak gerakan. Mega bilang, dia tidak boleh terlalu capek. Aku mengerti. Tidak apa-apa. Masih banyak waktu. Saat ini yang penting dia sudah kembali. Aku senang sekali. Tuhan mengabulkan doaku.

Hingga pagi itu, di rumah Mega. Kita sekelas berkumpul disana. Sebuah mobil ambulans yang membawa dia pergi. Sirenenya memekakkan telinga. Kulihat ibu Mega pingsan saat sirene dibunyikan. Kakak-kakaknya menangis. Aku lemas. Ambulans itu membawa jenazah Mega. Pergi. Selamanya.

You’ll never know what it is, not until it’s gone..

Aku kangen Mega..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar