Rabu, 16 Januari 2013

Don't be just an ordinary woman!!

I'm writing on this title not because I am a superwoman that already have all the experiences and abilities to become so. I'm still learning on become a multitasking woman- a woman that able to be a good wife for her husband, a good mother for her children, and absolutely has a good achievement of her life.

I only live once, that's what I always say to myself. So I think it's okay if I try to have everything beside me as perfect as possible, beyond ordinary. Although I also realize, "perfect" can be various, according to someone's perception.

So,, this is my opinion toward woman : BEYOND ORDINARY

Pagi ini, saya membaca salah satu notes yang diupload teman di Facebook. Note tersebut bersumber dari salah seorang ibu yang cukup terkenal di Indonesia. Singkat cerita, sang ibu memilih untuk melepaskan karir dan lain sebagainya agar beliau lebih fokus mengurusi keluarganya. Agar beliau bisa maksimal mendidik dan membentuk kepribadian anak-anaknya, mendampingi suaminya. Sungguh, pilihan yang sangat mulia menurut saya. 
Saya membayangkan, dengan masa depan karier yang begitu menjanjikan bagi beliau -ibu tersebut adalah seorang dokter muda yang pintar-, pasti lah tidak mudah meninggalkan semua kebahagiaan ber karier hanya untuk kemudian diam di rumah. Pasti ada perjuangannya. 
Terkadang, perjuangan untuk left everything behind and become a full housewife  bisa berhasil. Sang perempuan bisa ikhlas, bahagia, dan tidak bosan walau kesehariannya berkutat pada dunia domestik rumah tangga, dengan beberapa sosialisasi dan selingan hiburan lain. 
Tetapi, ada juga banyak teman perempuan saya yang seusia di zaman sekarang yang enggan mengambil pilihan tersebut-become a fully housewife. Kebanyakan, berkarier merupakan pilihan mutlak untuk mereka. Pertimbangannya, mereka sudah dikuliahkan orangtua mahal, dan mereka tidak ingin hanya meminta dan menunggu gaji suami. Mereka ingin berpenghasilan sendiri dan mandiri. 

Saya pernah melihat kedua contoh golongan perempuan di atas. Saya pernah melihat ibu-ibu yang bahagia dengan menunggui anaknya sekolah di TK sampai pulang, dan paginya sampai malamnya disibukkan dengan memasak, membersihkan rumah, merawat anak, suami, bahkan terkadang ia sampai lupa merawat diri sendiri. Kehidupannya bahagia (sepertinya sepengamatan saya). Anak dan suami nya rukun, bahagia.

Namun, tidak jarang juga saya temui, betapa mereka harus bolak-balik berkonsultasi ke psikolog, ketika anak mereka sudah akan meninggalkan rumah. Mereka limbung, galau. Merasa tidak rela, takut kesepian, tidak berguna, tidak ingin ditinggal. Akhirnya, mereka seakan "menyandra" anak mereka untuk menemani mereka dirumah. Tinggal keikhlasan anak diuji disini. Antar karier yang membentang di dunia luar sana, atau menunggui orangtua di kota asal. 
Saya kira, wajar lah reaksi limbung ibu-ibu tersebut diatas. Bayangkan, selama lebih dari 20 tahun, kehidupan mereka adalah keluarga mereka. Mulai pagi mengurus anak dan suami sampai malam tiba. Bayangkan ketika tiba-tiba hal yang selama ini menjadi kehidupan rutin mereka tiba-tiba menghilang. Wajar lah kalau mereka limbung. Mirip sindrom pensiun. Post power syndrom.

Saya juga pernah melihat perempuan yang memiliki karier yang mentereng sejak muda. Gajinya saya kira pasti diatas 10 juta sebulan. Saya yakin ia cukup puas dari segi pribadinya. Ia diakui, muda, sudah menikah, cantik, punya anak yang lucu. Tapi sayangnya, ia yang lulusan S2 luar negeri memilih memasrahkan pengasuhan anaknya hampir secara penuh pada pembantunya yang "hanya" lulusan SMP. Ia bekerja dari pagi sampai malam. Ia pergi ketika anaknya masih belum bangun, dan pulang saat anaknya sudah tidur. Si anak kemudian hanya berteman dengan neneknya yang sudah tua, yang melarangnya untuk lari-lari dan bergerak bebas keluar, karena nenek sudah tidak kuat lagi mengikuti tingkah polah cucunya tersebut. Anak juga hanya berbagi pengetahuan dengan pembantunya, yang terbatas pengetahuan SMP, yang saya yakin jauh berbeda level keluasan pengetahuannya dengan ibunya yang S2. Betapa sayangnya. Si anak yang masih panjang masa depannya, lebih daripada karier si ibu, tapi tidak mendapatkan bekal yang cukup dari ibu untuk perjalanan hidupnya nanti. 

Dari kedua contoh di atas, saya menarik kesimpulan pribadi. Mungkin ada baiknya jika seorang perempuan tetap memiliki aktivitas pribadi walaupun sudah menikah dan memiliki anak. Aktivitas tersebut tidaklah harus menyita sedemikian banyak waktu perempuan itu diluar rumah-sehingga mengabaikan keluarga, anak, suami. Aktivitas itu juga tidaklah HARUS menghasilkan sekian puluh juta penghasilan -kecuali terpaksa. Baik sekali jika bisa, namun tidak juga tidak apa-apa, karena sekarang pun ada suami yang bisa diajak berbagi beban mencukupi rumah tangga. 

Namun, aktivitas tersebut harus lah memiliki arti atau makna bagi si perempuan. Aktivitas tersebut harus lah membuat si perempuan tetap memiliki lahan untuk mengembangkan potensi dan wawasannya sehingga ia tidak aus, ketinggalan jaman, mandeg. 

Seiring perkembangan anak, akan ada waktunya dimana perempuan bisa "menggenjot" kariernya tanpa harus banyak kehilangan waktu untuk membekali masa depan anak dan merawat suami. Saat anak-anak mulai beranjak dewasa misalkan, saat dimana anak mulai harus belajar mandiri, saat itulah perempuan pun bisa agak "melepas" anak dengan memaksimalkan produktivitasnya-entah dari segi karier, atau penghasilan, atau pengetahuan.


Saat ini, ada banyak pilihan profesi yang bisa dilakukan. Bisnis online di rumah, tentor paruh waktu di bimbingan belajar, wirausahawati yang sukses, fotografer lepas, penulis. Bahkan, ibu dokter yang saya contohkan di atas tadi juga masih bisa mengembangkan Bank Mata di masa senjanya, yang bisa menolong orang-orang yang mengalami kebutaan, jadi ia tidak sepenuhnya berhenti berkarya dan berkembang.

Intinya, tetap produktif, tetap berproses, tetap berkualitas. 

Kita, perempuan, hanya hidup sekali. Tinggalkan sesuatu yang bermakna dalam hidup, tidak hanya terbatas untuk keluarga, tapi juga dalam lingkup masyarakat luas. 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar