Majene. Kota kecil di Sulawesi Barat. Di situlah saya berada sekarang, mungkin juga untuk beberapa waktu ke depan. Majene,, bukan kota yang gemerlap, jauuh sekali berbeda dari kota manapun yang pernah saya tempati sebelumnya. Jauh dari keramaian Malang, Surabaya, ataupun Kediri. Kota ini malah mengingatkan saya pada kenangan masa kecil saya di pulau Kangean, Madura.
Majene tidak begitu punya pandangan positif di kalangan pendatang. Cukup banyak pendatang disana, yang biasanya dimutasi karena pekerjaan. Namun, sedikit sekali diantara mereka yang berpandangan positif tentang Majene, bahkan mereka yang lahir dari Sulawesi sendiri pun. Keluhan, omelan, cibiran, ketidakpuasan, sering sekali saya temukan disana. Kota yang tidak ada apa-apanya lah, kota yang sepi lah, bikin stress, mau cari apa-apa mahal, dan lain sebagainya. Rasanya, kalau di list, kolom list tentang keluhan terhadap Majene pasti lebih banyak daripada kolom pujiannya.
Saya, yang juga pendatang,, lebih miris lagi merasakannya. Dalam hati saya bilang, padahal mereka pekerja, mereka masih punya waktu untuk keluar rumah dan mencari suasana lain. Bagaimana dengan saya yang hanya diam di rumah saja? (P.S : saya sedang hamil jadi tidak diterima bekerja di kantor karena kondisi saya). Terkadang, kalau lagi benar-benar stress, saya ingin sekali rasanya mengumpat sebanyak-banyaknya tentang kondisi kota Majene. Termasuk mengumpati para pejabat pemerintahannya, yang saya bingung apa saja yang mereka kerjakan sampai tahun 2013 kota mereka masih saja terpencil (Nah kan, saya sudah negatif lagi, hehehe..)
Ditengah-tengah semangat saya yang diam-diam masih menggelora untuk berkarier, sekolah lagi, berkarya, dan lain sebagainya, kondisi di Majene sejujurnya benar-benar membuat saya frustasi. Rasanya seperti dihempaskan ke ruang hampa. Saya sering sekali menangis, terkadang malah menyesal, dan banyak tumpukan perasaan negatif lain yang dulu tidak pernah saya rasakan. I was so positive on my point of view..
Dan lucunya, saya juga punya banyak teman yang memiliki perasaan menyesal yang sama. Terutama yang bernasib sama, di daerah terpencil..
Tidak sebentar waktu yang saya butuhkan untuk legowo, menerima, berdamai. Setelah semua tumpahan perasaan negatif yang saya rasakan, akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa mungkin.. (karena saya juga tidak tahu rencana Tuhan) Majene adalah kota terbaik untuk saya dan suami menyamakan langkah sebagai pasangan baru. Di sana saya belajar bersabar, ikhlas.. Tuhan sementara mengambil semua yang pernah diberikan pada saya saat sendiri; karier, kota tempat tinggal yang nyaman, fasilitas-fasilitas yang mudah diakses, kesempatan berkembang dalam suatu lembaga. Tuhan hanya menyisakan satu, diri saya sendiri. Dan itulah ujian saya, bagaimana saya yang dari dulu sudah terbiasa dengan fasilitas, pujian, tempat yang enak, segala macam atribut duniawi, harus belajar ikhlas mendampingi suami tanpa semua itu. Mendampingi suami hanya dengan diri saya sendiri. Bagaimana saya bisa untuk terus menjaga kondisi saya tetap baik psikologis dan fisik dengan perubahan yang terjadi, dan menyemangati suami di setiap langkahnya. Bagaimana saya, in all the way, mendampingi dia. Hanya itu, bertugas mendampingi dia. Ikhlas, untuk ikut mendampingi dia bagaimanapun kondisinya.
#saya rasa, hal itu akan sulit saya lakukan kalau saya masih punya semua atribut duniawi itu,, saya pasti masih akan egois dan terus berambisi mengejar mimpi saya sendiri tanpa menyeimbangkan langkah dengan suami.. hehe
Alhamdulillahnya, suami saya orang terbaik yang pernah saya tahu. Keikhlasannya menenangkan saya setiap kali saya menangis pengen pindah. Kesabarannya menghadapi saya saat saya mulai mengumpat-umpat tentang Majene. Kemauannnya untuk berusaha mendapatkan tempat yang lebih baik bagi kami dengan cara belajar untuk sekolah lagi. Saya belajar sabar, suami belajar berjuang.. Alhamdulillahnya, Allah masih menyediakan itu semua untuk saya.
Majene mungkin memang bukan kota yang ideal untuk saya. Akan tetapi, Majene merupakan kota yang benar-benar bisa menyatukan langkah kami, menyatukan mimpi kami, menyelaraskan rencana-rencana kami. Majene, memberi saya banyak pelajaran untuk ikhlas, sabar, dan untuk lebih percaya pada keindahan rencana Allah, walau se misterius apapun rencana itu.
Well, this is life, no one knows what happens tomorrow, what God provides to your day, whether it's kind of a nice surprise, or an awful thing to enjoy. However, trust in Allah is a must, you can't deny it.. So,, I will give my efforts to believe in Allah, try my best to put my trust only on Allah's plan, and not stop trying to have a better place to live.. May Allah always blesses us.. amin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar